< >

Kelompok Sadr Hentikan Peranserta di Parlemen Irak

Kamis, 14 Juni 2007 05:04
Kapanlagi.com - Kelompok politik ulama keras Syiah Irak Moqtada Sadr pada Rabu menangguhkan peransertanya di parlemen sebagai jawaban atas pemboman tempat keramat Syiah di kota Samarra, kata pemimpin gerakan tersebut.

Gerak itu, dengan 32 anggota pembuat undang-undang, menguasai seperempat kursi dalam kekuasaan Persekutuan Syiah Perdana Menteri Nuri Maliki.

Kelompok Sadr menarik diri dari pemerintahan Maliki pada April atas penolakan perdana menteri itu menentukan jadwal penarikan balatentara Amerika Serikat di Irak.

Nassar Rubaie, kepala kelompok itu, Rabu menyatakan gerakan tersebut mengambil tindakan terahir itu sebagian besar karena perusakan kedua menara di Masjid Emas di Samarra.

"Kami memutuskan menangguhkan keanggotaan kami di parlemen sampai pemerintah mulai membangun kembali semua masjid Syiah dan Sunni," katanya kepada kantor berita Inggris Reuters, merujuk pada tempat ibadah, yang diserang selama empat tahun kemelut in Irak.

Anggota parlemen dari kelompok itu, Saleh Hassan Igaili, mengatakan kepada kantor berita Prancis AFP bahwa kelompoknya menghentikan peranserta di parlemen tersebut sampai semua tempat ibadah itu diperbaiki, terutama masjid Syiah di Samarra.

Dengan membacakan pernyataan kelompok itu, Igaili menyatakan kelompoknya juga menuntut penarikan tentara Amerika Serikat dari Samarra dan "menuntut penyelidikan segera oleh polisi" atas pemboman tempat keramat tersebut.

Kelompok itu juga ingin pasukan Irak di Samarra diganti oleh yang baru guna mengamankan jalur ke Samarra dan pembangunan kembali tempat keramat itu sesudah serangan teroris itu, katanya.

Kelompok itu sebelumnya menangguhkan peransertanya di parlemen selama beberapa pekan ketika Maliki mengadakan pertemuan dengan Presiden Amerika Serikat George W Bush di Amman ahir tahun lalu.

Tersangka pejuang Alqaida hari Rabu dituduh meledakkan dua menara masjid suci Syiah di kota Samarra, Irak, tempat keramat dibom tahun lalu dalam serangan mencetuskan gelombang pembunuhan aliran.

Pejabat tinggi pemerintah Irak menyatakan serangan atas Masjid Emas Samarra adalah "berita terburuk bagi Irak" saat pemimpin tertinggi Syiah negeri itu mendesak Syiah tidak membalas serangan suku kecil Arab Sunni.

Tentara Amerika Serikat menyatakan prihatin dan mengatakan memantau peristiwa sesudah serangan tersebut, yang menghancurkan dua menara keemasan masjid itu.

Pemboman mesjid tersebut tahun lalu, yang merusak kubah keemasan terkenal masjid itu, tapi tidak merusak menaranya, merupakan titik balik bagi Irak, yang melepaskan kekerasan aliran dan membunuh puluhan ribu orang.

Karena takut akan pertumpahan darah di Bagdad, pemerintah menyatakan akan memberlakukan larangan keluar rumah di kota itu mulai pukul 15.00 (18.00 WIB) sampai pemberitahuan lebih lanjut.

Saksi menyatakan sejumlah besar tentara Irak mengalir ke jalanan Bagdad.

Tak jelas betul bagaimana menara itu diledakkan, tapi penduduk menyatakan terjadi bentrok di daerah tersebut antara kelompok bersenjata dengan polisi sebelum ledakan terjadi pada sekitar pukul 09.00 (12.00 WIB).

"Ini kejahatan, yang bertujuan menciptakan ketegangan aliran," kata Saleh Haidari, kepala bagian dana Syiah Irak, badan utama keagamaan, kepada Reuters.

Dua di antara 12 imam utama Syiah dimakamkan di masjid Samarra itu, yakni Imam Ali Hadi, yang meninggal pada 868 dan puteranya, imam ke-11, Hasan Askari, yang meninggal tahun 874. (*/lpk)