"Kami akan melakukan pengawasan bersama dengan pemerintah daerah menyangkut pola pengawasan karena BPH Migas hanya di pusat termasuk dengan pihak berwajib," kata Kepala BPH Migas Tubagus Haryono di Palangka Raya, Kamis (14/06).
Bahkan kerjasama dengan pihak Polri ditingkat pusat, lanjutnya, sudah membuahkan hasil yaitu kasus yang ditangani sudah lima kali ditingkat pengadilan (P21) dan diharapkan ada efek jera bagi para pelaku penyimpangan BBM bersubsidi.
BBM bersubsidi yang diatur melalui UU tentang APBN yang didistribusikan tahun 2007 untuk jenis minyak tanah sebanyak 9,9 juta kiloliter, premium 17 juta kiloliter dan solar 11 juta kiloliter.
Dia mengakui, BBM bersubsidi rawan terjadi penyalahgunaan karena disvalitas harga yang tinggi sehingga menyebabkan penyelundupan horisontal dan vertikal. Seperti penyelundupan horisontal yang seharusnya untuk rumah tangga lari ke industri.
Selain BBM bersumbsidi, pemerintah juga meluncurkan program konversi minyak tanah ke LPJ yaitu dengan membagi-bagikan secara gratis tabung gas beserta isinya 3Kg dan kompor gas bagi keluarga miskin karena gas cukup banyak di tanah air serta lebih murah dan ramah lingkungan.
Menyinggung kelangkaan BBM di tanah air, Tubagus mengatakan, hal tersebut dipengaruhi tiga faktor yaitu faktor alam seperti musim kemarau berpengaruh terhadap pendistribusian BBM yang terhambat karena mendangkalnya sungai, disamping permintaan meningkat seperti di Pulau Jawa banyak mesin pompa air yang menggunakan BBM.
Selain itu faktor teknologi seperti keterlambatan dan kerusakan kapal maupun kerusakan kilang minyak sehingga produksi berkurang dan menyebabkan suplai berkurang.
Sedangkan faktor terakhir yaitu manajemen perusahaan seperti Pertamina diminta mengantisipasi terjadinya kelangkaan dengan membuat ramalan-ramahan seperti menjelang lebaran dan tahun baru, karena meski estimasi penggunaan BBM masih dibawah kuota ditetapkan, tapi bisa meningkat menjelang lebaran dan tahun baru.
"Hal ini penting dilakukan karena jika salah memanage bisa terjadi kelangkaan," ucapnya.
Seperti kebutuhan mitan yang diperkirakan sebanyak 3,75 liter/jiwa/bulan juga harus dimanage termasuk pertumbuhan ekonomi yang diperkirakan rata-rata 5-6%, pertumbuhan kendaraan bermotor sekitar 6% dan permintaan BBM naik sekitar 5%, katanya. (*/rit)