Ia tidak bersedia menyebutkan berapa banyak realisasi perdagangan rambut palsu ke macanagera periode awal 2007, tetapi ada saja yang dikirim ke pasaran ekspor lengkap dengan tas hitam yang didesain khusus untuk para artis.
"Kami memproduksi wig beraneka macam bentuk dan warna sesuai permintaan konsumen," kata dia sambil menyebutkan bahwa pihaknya sangat susah mendapatkan rambut manusia untuk memenuhi permintaan pasar dalam jumlah memadai.
Perusahaan PT Sari Rambut terpaksa mendatangkan rambut bahan baku wig dari India guna memenuhi permintaan dalam jumlah banyak dan penggarapannya dalam waktu singkat. "Kami lebih cepat mengimpor rambut dari India," katanya.
Bali sebenarnya pertengahan tahun lalu pernah mengekspor sebanyak 6,5 ton rambut manusia bernilai sekitar US$65.000 ke Jerman, yang ditangani oleh sebuah perusahaan di kawasan wisata Ubud, Gianyar.
Rambut manusia yang kali pertama diekspor ke kawasan Eropa itu, dikumpulkan sedikit demi sedikit hampir selama lima tahun, dari usaha salon kecantikan yang tersebar di Pulau Dewata, baik di perkotaan maupun pedesaan.
Mengumpulkan rambut manusia dalam jumlah banyak sangat sulit, apalagi belakangan ini tidak banyak wanita di pedesaan berambut panjang. Oleh sebab itu ketika ada perusahaan yang mampu mengumpulkan rambut manusia mencapai 6,5 ton, merupakan prestasi besar.
Pengusaha skala kecil di Bali selain mampu memperdagangkan rambut manusia, juga banyak mengekspor wig buatan angan-tangan terampil masyarakat kawasan wisata Ubud, Bangli, dengan tujuan utama ke Eropa dan Amerika Serikat.
Adanya aneka ragam barang kerajinan memasuki pasar ekspor, termasuk rambut manusia, diharapkan perolehan devisanya akan meningkat, sebab selama 2007 hingga April, baru US$79 juta , naik 24 % dari periode sama 2006. (*/rsd)