< >

Pasar Tekstil Dunia Tumbuh 10%, Peluang Indonesia Masih Tinggi

Jum'at, 15 Juni 2007 06:48
Kapanlagi.com - Pasar tekstil dan produk tekstil dunia tumbuh sekitar 7-10 % dengan total pasar mencapai sekitar US$300 miliar yang merupakan peluang bagi Indonesia untuk meningkatkan penetrasi pasar ekspornya.

"Permintaan tekstil di dunia terus meningkat dalam keadaan apapun dengan pertumbuhan sekitar 7-10 %," ujar pakar garmen internasional Andres Saldiaz Pozo, yang juga konsultan peningkatan daya saing tekstil USAID, di Jakarta, Kamis.

Ia mengatakan pasar tekstil dan produk tekstil (TPT) dunia saat ini mencapai sekitar 300 miliar dolar AS dengan pasar terbesar berada di Uni Eropa yang juga merupakan negara importir TPT besar dengan nilai impor sekitar US$121,65 miliar pada 2006.

Negara importir dan pasar TPT yang besar lainnya adalah Amerika Serikat (sekitar US$75 miliar ), Jepang (US$21,69 miliar ), Kanada (US$5,22 miliar ), dan Meksiko (US$2,58 miliar ).

Sedangkan negara produsen terbesar antara lain Amerika Serikat, Cina, Pakistan, Tunisia, Korea Selatan, Vietnam, Thailand, Bangkok, dan Indonesia.

"Indonesia merupakan negara produsen garmen (pakaian jadi) ke-9 terbesar di dunia yang memiliki potensi sangat besar untuk meraih pasar dunia lebih besar," katanya.

Ia mengakui sampai saat ini Cina merupakan produsen TPT yang kuat di dunia yang daya saingnya mengancam seluruh produsen TPT di dunia.

Menurut dia, kekuatan industri TPT Cina tidak hanya didukung populasi masyarakatnya yang besar dan upah buruh yang murah, tapi juga dukungan pemerintahnya dalam bentuk insentif pajak bagi perusahaan.

"Selain itu produsen TPT Cina juga memiliki teknologi dan mesin yang canggih sehingga produktifitasnya tinggi," katanya.

Indonesia, menurut dia, memiliki peluang yang cukup besar untuk meraih pangsa pasar dunia yang lebih besar, karena sekitar 50 % industri TPT Indonesia terutama yang besar dan menengah sudah memiliki daya saing yang tinggi.

Menurut dia, untuk meningkatkan daya saing di pasar internasional, industri TPT Indonesia perlu memberikan paket layanan yang lebih lengkap dengan aliansi yang lebih kuat antara produsen garmen dan pemasok lainnya.

Selain itu, industri TPT Indonesia juga perlu meningkatkan produktifitas, baik dalam produksi, tenaga kerja, dan penggunaan bahan baku, serta secara aktif menjemput bola mendekati pasar internasional.

Saat ini, menurut dia, tingkat produktifitas industri TPT Indonesia khususnya garmen mencapai 10-15 pakaian jadi laki-laki dewasa per pekerja per hari. Jumlah itu jauh lebih kecil dibandingkan Cina (20-25 potong per pekerja per hari), Bolivia (18-20 potong per pekerja per hari), dan Kenya (20 potong per pekerja per hari). (*/rsd)