Cina Terapkan Keseimbangan Antara Produksi dan Konsumsi Pangan

Kapanlagi.com - Pemerintah China menerapkan kebijakan untuk menyeimbangkan antara produksi dan konsumsi beras sebagai usaha memenuhi kebutuhan pangannya.

"Sebenarnya China memiliki dua kunci untuk mensukseskan pertaniannya, yakni teknologi dan kebijakan," kata Menteri Pertanian, Anton Apriantono, di Jakarta, Kamis malam.

Dia mengatakan kebijakan China untuk menyeimbangkan produksi dengan konsumi beras membuat harga beras di tingkat petani selalu stabil. Ini karena tidak ada produksi berlebih sehingga harga beras menjadi murah atau kurangnya produksi sehingga sebaliknya harga menjadi mahal.

Menurut dia, China benar-benar memperhitungkan stok berasnya dengan memastikan keseimbangan produksi yang ditetapkan harus mampu memberikan cadangan yang cukup.

"Cadangan pangan mereka dapat mencukupi hingga 10 tahun," ujar dia.

Menurut Anton, hal tersebut menjadi alasan China untuk menolak ekspor beras ke Indonesia dalam jumlah banyak. Ini karena China benar-benar menjaga stok berasnya untuk ketahanan pangan negara tersebut.

"Dapat dibayangkan China dengan jumlah penduduk sebanyak 1,3 miliar jiwa mampu mencukupi pangannya dan hanya bergantung dari dalam negeri," katanya.

Selain itu, China juga benar-benar memperhatikan perkembangan teknologi pertaniannya seperti memproduksi benih unggul, ujar Mentan. China sangat memperhatikan infrastruktur diantaranya pembangunan jalan, irigasi, dan termasuk bendungan terbesar di dunia.

Dalam satu universitas yakni Shincuan, China memiliki sumber daya manusia yang berkualitas untuk mendukung perkembangan pertanian yakni 60 orang peneliti, termasuk di dalamnya 10 orang profesor.

Dapat dikatakan kunci keberhasilan negara tersebut karena memiliki perencanaan yang sangat matang dan didukung oleh masyarakatnya. Sangat disayangkan kepentingan politik di Indonesia terkadang menjadi batu sandungan untuk memenuhi kebutuhan jutaan jiwa.

Mentan mencontohkan bagaimana masyarakat China sangat mendukung pembuatan bendungan terbesar di dunia yang perencanaannya memakan waktu 40 tahun. Sebanyak 1,3 juta jiwa harus dipindahkan dari lokasi tempat bendungan dibangun dan mereka rela untuk berpindah tempat untuk kebaikan lebih banyak orang.

"Tentunya pemerintah China melakukan sosialisasi proyek tersebut dan menyediakan tempat tinggal terlebih dahulu sebelum akhirnya masyarakat mau pindah dari lokasi proyek," ujar dia. (*/rit)

©2003-2007 KapanLagi.com