Aswin, wakil koordinator lapangan aksi KMAK, kepada wartawan di Palu, Sabtu, mengatakan semua rekannya yang sebelumnya dilaporkan hilang seusai insiden di depan Pengadilan Negeri/PN Palu telah kembali ke tempat kosnya masing-masing.
"Semuanya sudah diketemukan dan dalam kondisi sehat," kata dia.
Ke-10 aktivis KMAK yang ditemukan itu, adalah Em dan Ad dari Fisipol; As, Iw, Rs, dan Id (Fakum); As, Wr, dan Il (FKIP), serta Tm dari Fekon.
Informasi mengenai hilangnya 10 aktivis mahasiswa tersebut diketahui ketika pengurus KMAK pada Kamis siang atau sesaat setelah insiden di depan PN Palu melakukan evakuasi terhadap semua anggotanya (yang melakukan aksi unjuk rasa) ke Mapolresta setempat dan tidak melihat wajah mereka.
Bahkan pengurus organisasi non-kulikuler ini hingga pukul 20:00 Wita masih terus melakukan pencarian hingga berusaha mengontak teman-temannya yang dilaporkan hilang tersebut melalui telepon genggamnya masing-masing, tapi semuanya tidak membuahkan hasil.
"Kami merasa lega sebab besok paginya semua teman itu telah memberikan informasi bahwa mereka sudah berada di tempat kosnya masing-masing," tuturnya.
Ketika ditanyakan penyebab 10 rekannya itu tidak terlihat selama lebih 12 jam, Aswin mengatakan ternyata saat terjadi keributan ketika berlangsung aksi unjuk rasa di depan PN Palu mereka berhamburan lari dan berlindung di rumah penduduk sekitarnya karena dikejar orang-orang tak dikenal.
"Teman-teman itu berlindung di rumah penduduk karena dikejar sekelompok orang tak dikenal, bahkan meminta kepada pemilik rumah untuk tidak memberitahukan tentang keberadaan mereka dan menon-aktifkan HP-nya," katanya.
Puluhan massa dari kelompok berbeda Kamis lalu terlibat bentrokan di depan PN Palu saat berlangsung sidang perkara kasus korupsi sumbangan dana persiapan otonomi perguruan tinggi (SDPOPT) senilai lebih Rp7,5 miliar dengan terdakwa Rektor Untad Sahabuddin Mustafa.
Keributan itu bermula ketika massa KMAK yang juga mahasiswa Untad pada siang harinya mendatangi PN Palu di Jln SAM Ratulangi Palu untuk memberikan dukungan kepada aparat penegak hukum setempat.
Namun ketika mereka hendak memasuki halaman pengadilan tersebut, ternyata massa pendukung Rektor Sahabuddin yang jumlahnya lebih besar sudah menghadang massa KMAK hingga terjadi aksi pelemparan batu dan penganiayaan.
Dalam insiden ini selain mengakibatkan sejumlah orang cedera terkena lemparan batu, juga dua mahasiswa lainnya menderita luka bacok terkena senjata tajam sehingga dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan.(*/cax)