< >

Harga Minyak Bertahan di Perdagangan Asia

Kamis, 21 Juni 2007 11:59
Kapanlagi.com - Harga minyak bertahan di perdagangan Asia, Kamis, setelah cadangan energi Amerika Serikat (AS) menunjukkan peningkatan sehingga menghapus kekhawatiran pasar atas isu pemogokan nasional di produsen minyak Nigeria, kata para pedagang.

Transaksi minyak mentah berjangka di bursa New York untuk produk minyak mentah light sweet pengiriman Agustus, naik empat sen menjadi US$68,90 per barel. Sebelumnya harga minyak jenis itu turun 81 sen menjadi US$68,86 pada perdagangan Rabu malam.

Minyak mentah Brent Laut Utara untuk pengiriman Agustus, naik 23 sen menjadi US$70,65 per barel.

"Harga beradu dengan peningkatan stok bensin dan minyak yang lebih besar dari prediksi, sehingga pasar jatuh karena itu," kata Tetsu Emori, kepala komoditas strategis Mitsui Bussan Futures.

"Kami sudah mengetahui (tentang) isu Nigeria, mereka telah kehilangan sejumlah produksi minyaknya...ini bukan berita segar," katanya.

Departemen Energi AS (DoE), Rabu, mengatakan bahwa stok minyak mentah naik 6,9 juta barel dalam pekan yang berakhir 15 Juni. Sebagian besar analis memprediksi akan ada penurunan 50.000 barel.

Cadangan bensin (premium) juga melonjak 1,8 juta barel pekan lalu, di atas perkiraan kenaikan 1,2 juta barel.

Meski begitu, cadangan bensin masih 5,2% lebih rendah ketimbang tahun sebelumnya dan tingkat utilisasi kilang anjlok menjadi 87,6% dari 89,2% pekan sebelumnya.

Pasokan bensin merupakan faktor kunci tahun ini, terutama pada saat puncak permintaan bahan bakar minyak di musim panas kali ini.

Sementara itu pemogokan umum, Rabu, melanda Nigeria, sekaligus menjadi ujian penting pertama bagi presiden baru negara itu dan menempatkan pasar minyak pada kemungkinan terjadinya gangguan pasokan dari negara produsen minyak terbesar keenam dunia tersebut.

Serikat pekerja terbesar Nigeria melakukan pemogokan setelah pemerintahan Presiden Umaru Yar`Adua, yang dilantik akhir bulan lalu, menolak perubahan kebijakan kenaikan harga BBM sebesar 15%.

Sebagai gantinya, pemerintah menawarkan kenaikan harga hanya separuhnya, dimana dikatakan kebijakan itu mempertimbangkan kesulitan-kesulitan yang akan muncul akibat kenaikan harga BBM.

Nigeria adalah produsen minyak mentah terbesar di Afrika dan keenam terbesar di dunia, dengan produksi 2,6 juta barel per hari (bph). Namun produksinya kini turun 25% akibat berbagai kerusuhan di negara itu. (*/rit)