"Kenaikan perolehan devisa Januari-Mei 2007 cukup menggembirakan bahkan bisa melebihi dari perkiraan semula yang hanya sepuluh per tahun," kata Kasubdin Perdagangan Luar Negeri, Disperindag Bali, Ni Wayan Kusumawathi di Denpasar, Jumat.
Apalagi dalam pertengahan tahun, realisasi ekspor akan semakin ramai, dan kondisi itu bisa hingga menjelang Natal dan tahun baru, katanya sambil berharap perolehan devisa nonmigas nanti bisa melebihi sasaran tahun 2007 sebesar US$473 juta.
Ia mengatakan, kenaikan perolehan devisa tersebut sangat didukung realisasi hasil industri seperti garmen dan ikan dalam kaleng yang mengalami kenaikan dari US$77,1 juta menjadi US$89,6 juta selama Januari-Mei 2007.
Sektor aneka kerajinan juga mengalami kenaikan yang cukup berarti, yakni 22,3% dari perdagangan sebelumnya US$ 83 juta menjadi US$101,8 juta, hasil pertanian naik 69% dari US$18,9 juta menjadi US$32 juta.
Hasil perdagangan sektor perkebunan juga mengalami peningkatan 59% dari US$496,9 ribu menjadi US$791,7 ribu dalam lima bulan pertama 2007. " Kami berharap ekspor hasil perkebunan Bali naik terus," katanya.
Harapan itu dilontarkan sehubungan perdagangan luar negeri selama beberapa tahun terakhir mengalami fluktuasi yang diakibatkan banyak faktor, antara lain dipengaruhi situasi perekonomian mancanegara.
Dampak tragedi bom Jimbaran dan Kuta tahun 2002 dan 2005, berpengaruh besar terhadap dunia pariwisata di Indonesia terutama di Bali dan nilai tukar dolar AS terhadap rupiah juga ikut berfluktuasi berpengaruh pada ekspor.
Pariwisata dan sektor industri kecil dan kerajinan saling berkaitan, semakin bertambah banyak turis berlibur ke Bali juga besar pengaruhnya terhadap ekspor, sebab banyak wisatawan yang berlibur sambil berbisnis ke Pulau Dewata. (*/rsd)