"Tidak ada jalan lain selain menambah daya sehingga sistem keandalan listrik tercukupi," katanya, dalam jumpa wartawan di Kantor Wakil Presiden di Jakarta, Jumat.
Ia menambahkan, pemerintah telah mencanangkan program "10.000 MW" untuk mengamankan pasokan listrik Jawa-Bali, namun sering dengan makin berkembangnya kegiatan ekonomi di Jawa maka tingkat cadangan listrik pun terbatas sehingga satu dua tiga pembangkit listrik mengalami gangguan, langsung berpengaruh terhadap sistem keandalan kelistrikan Jawa-Bali.
"Karena itu, tidak ada jalan lain selain memperbaiki pembangkit yang mengalami gangguan dan menambah daya," ujar Jusuf Kalla.
Sistem kelistrikan Jawa-Bali dalam dua hari terakhir mengalami defisit daya, menyusul gangguan di sejumlah pembangkit besar dalam waktu yang bersamaan. Meskipun tidak seluas yang diperkirakan, PLN melakukan pemadaman listrik sebesar 35 megawatt (MW) di wilayah Jakarta Utara. Pemadaman dilakukan selama kurang lebih dua jam mulai pukul 18.00-20.00.
Semula, PLN memperkirakan terjadi defisit sampai 480 MW, dengan gangguan yang dialami Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU) Paiton 7, Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Suralaya 5, PLTU Cilacap 2, PLTGU Cilegon, dan PLTGU Muara Tawar. Dengan perkiraan terparah itu, semula pemadaman sebesar 400 MW akan dilakukan secara merata di DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali.
Namun, pemadaman bisa diminimalisasi karena realisasi beban puncak semalam hanya 14.950 MW dari perkiraan 15.200 MW. Angka beban puncak bisa dikurangi karena sistem Jawa- Bali dijalankan dengan kualitas tegangan di bawah normal.
Kondisi listrik di sistem Jawa- Bali diperkirakan berangsur normal mulai Jumat ini. PLTGU Muara Tawar yang sebelumnya kekurangan bahan bakar, sudah bisa beroperasi penuh. Kapal pengangkut bahan bakar minyak (BBM) pengganti sudah mulai memasok ke pembangkit itu kemarin sore.
Menurut data PLN, tahun ini pemakaian listrik naik 7% dari perkiraan. Akibat gangguan pasokan bahan bakar gas dan batu bara, pemakaian BBM PLN selama periode Januari-Mei 2007 sudah 217% dari Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan. (*/rsd)