Kontrak minyak utama di New York pada pukul 10.25 waktu Singapura (02.25 GMT), minyak mentah light sweet untuk pengiriman Agustus, turun 45 sen menjadi US$68,69 per barel dibandingkan US$69,14 dalam penutupan perdagangan, akhir pekan lalu.
Minyak mentah Brent Laut Utara untuk pengiriman Agustus turun 58 sen menjadi US$70,60 per barel.
Serikat pekerja di Nigeria mengakhiri pemogokan selama empat hari pada Sabtu lalu, menyusul tercapainya kesepakatan dengan pemerintah bahwa tidak akan terjadi peningkatan harga bahan bakar minyak (BBM) lebih lanjut selama tahun ini.
Sementara pemogokan telah berhenti, masih ada kekhawatiran jangka panjang atas stabilitas sektor minyak, kata pedagang.
"Nampaknya akan turun sedikit tetapi secara umum, pemogokan itu sendiri telah mencerminkan resiko di seputar produksi (minyak) Nigeria," kata Gerard Burg, ekonom energi dan mineral dari National Bank Australia di Melbourne.
"Tidak ada upaya penghentian kerusuhan sipil di sana dan hal itu akan dapat terus mengganggu produksi...Saya pikir produksi secara umum masih beresiko di Nigeria," katanya.
Nigeria, produsen minyak mentah terbesar Afrika dengan 2,6 juta barel minyak per hari, telah kehilangan 25 persen ekspornya akibat kerusuhan di wilayah produksi sebelah selatan negeri tersebut.
"Hal itu menandakan kelompok militan telah memperoleh dukungan luas dan itu akan terus mengancam penghentian produksi," kata Burg. "Ke depan, akan mendorong kenaikan harga sebagai cerminan dari resiko."
Pasar juga masih khawatir mengenai cadangan bensin (premium) selama puncak permintaan BBM saat musim berkendara di musim panas kali ini dimana warga Amerika banyak melakukan liburan dengan mengendarai mobil dan motor. (*/cax)