< >

Bank Jatim Ikut Danai Jalan Tol Mojokerto - Kertosono

Senin, 25 Juni 2007 19:21
Kapanlagi.com - PT Bank Jatim akan menanamkan investasinya sebesar Rp177 miliar dalam pembangunan jalan tol Mojokerto - Kertosono dengan membentuk sindikasi pembiayaan bersama empat bank pemerintah lainnya.

"Meski investasi yang ditanamkan cukup besar, tetapi Bank Jatim hanya memiliki lima persen dari seluruh total investasi yang akan dilakukan," ujar Direktur Utama Bank Jatim, Mulyanto, usai RUPS Bank Jatim di Kantor Pemprov Jatim, Senin.

Menurut Mulyanto, rencananya Bank Jatim akan bersindikasi dengan Bank DKI, Bank Mandiri, Bank Jabar, dan Bank BNI, sedangkan bertindak sebagai lead sindikasi ditunjuk Bank BNI.

"Sindikasi dalam pembangunan proyek jalan tol ini merupakan yang pertama kali diikuti Bank Jatim. Harapan Bank Jatim tentunya bisa memperoleh keuntungan dari proyek ini," katanya.

Dengan banyaknya cabang pembantu di sepanjang ruas jalan Mojokerto - Kertosono, ujar dia, hasil tol akan diserahkan lewat cabang-cabang yang ada. "Tentu kami akan optimalkan cabang-cabang yang ada. Sebagai kreditor, tentu wajar kami ingin untung," katanya.

Estimasi keuntungan yang besar dalam proyek tersebut menjadikan bank yang sahamnya dimiliki 38 kabupaten/kota se-Jatim ini serius berinvestasi di proyek jalan tol.

"Bank Jatim telah mengambil ancang-ancang untuk ikut sindikasi yang kedua. Selanjutnya, jalan tol Padalarang - Cileunyi akan jadi target Bank Jatim selanjutnya. Sekarang kami sedang dalam tahap finalisasi pembicaraan," katanya.

Sementara itu, ruas jalan tol Mojokerto - Kertosono merupakan bagian dari rencana besar pemerintah dalam membangun ruas tol lintas selatan yang menghubungkan Surabaya dengan Ngawi.

"Tol tersebut akan interconnecting dengan sejumlah tol yang ada seperti Surabaya - Mojokerto, Mojokerto - Kertosono, Kertosono - Ngawi," katanya.

Tambah Modal

Sementara itu dalam RUPS yang hanya dihadiri beberapa bupati dan walikota tersebut memutuskan untuk menambah modal menjadi Rp 750 miliar dari Rp2 triliun yang ditentukan Bank Indonesia.

Penambahan modal itu terdiri atas 750 ribu lembar saham. Secara rinci, untuk seri A 700 ribu dan seri B 50 ribu dengan nilai per lembar saham masing-masing Rp1 juta. Sedangkan yang Rp 2 triliun rencananya terdiri dari dua juta lembar saham.

Bentuknya, saham seri A sebanyak 1,750 juta lembar, seri B 250 ribu lembar dengan nilai per lembar saham Rp1 juta.

"Dulu ketika saya baru masuk, modal kerjanya hanya sekitar 200 juta rupiah saja. Sekarang sudah banyak," kata Gubernur Jatim, Imam Utomo.

Selain menambah modal kerja, rapat juga mengukuhkan kembali Sekdaprop Jatim, Dr Soekarwo SH MHum sebagai komisaris utama. Sedangkan Drs Ec Tari Sugijono posisinya digantikan Kepala Bapeprov Jatim, Indriyono SH.

RUPS juga menambah dua komisaris independen yakni Komisaris Independen, Prof Parwoto Wignyohartoyo Ak dan drs Isnanto Ak MMT.

Sedangkan untuk direktur kepatuhan sementara dirangkap Direktur Umum, Djoko Lesmono, menggantikan Bambang Nurcahyono. Penempatan jabatan komisaris ini sudah disetujui oleh Bank Indonesia. (*/rsd)

KOMENTAR PEMBACA

Pegawai Bank Jatim (27-09-2008 22:46:10)
Minal Aidin wal faizin,
Idul Fitri 1429 H.

Di hari nan Fitri ini, Allah membuka hati direktur kami, bank jatim, bapak djoko lesmono, rela mengundurkan diri dan menyerahkan bank jatim kepada pejabat yang lebih jujur dan mampu.

shafiyah hakim (11-07-2008 18:48:29)
assalamualaikum,

jenjang karir,gaji dan keadilan staff di bank jatim payah. tolong petinggi bank jatim, Direktur HRD BANK JATIM, perlakuan kepada staff ADIL dan JUJUR. bapak djoko lesmono lebih jujur menilai kemampuan staff bukan menilai fisik staff yang dapat mengurusi bapak luar dalam yaitu pekerjaan dan napsu.

bapak berikan kotak saran di website bank jatim, kotak saran ini TIDAK BERGUNA. Karena bapak mementingkan napsu bapak daripada hak staff kecil seperti saya.
Kapan staff kecil seperti saya dan teman teman mendapat gaji dan pendidikan seperti staff yang dapat bapak godain tapi isi otak nol.

kemampuan bapak sebagai direktur HRD amat jelek dan tidak profesional. Serahkan kepada petinggi lain yang lebih mampu. trimakasih wassalam.

Shafiyah Hakim