< >

Harga Cengkih di Tolitoli Turun

Senin, 25 Juni 2007 20:16
Kapanlagi.com - Awal dimulainya panen raya cengkih di Kabupaten Tolitoli, Sulawesi Tengah, harga cengkih kering di tingkat petani setempat dalam sepekan terakhir turun menjadi Rp30.500 per kilogram.

Harga ini terdapat selisih Rp1.500 dibanding keadaan beberapa pekan sebelumnya yang masih bertahan pada posisi Rp32.000/kilogram.

Sejumlah pedagang pengumpul hasil bumi di Tolitoli yang dimintai komentarnya soal ini, Senin, menolak memberikan komentar secara rinci, namun turunnya harga cengkih itu diduga karena persediaan barang memasuki panen raya sudah mulai meningkat.

"Sudah turun Rp 30.500. Apakah nanti masih turun saya tidak tahu," kata Ny. Lily, pemilik Toko Leonardo, salah satu pedagang pengumpul hasil bumi di Tolitoli yang menampung cengkih produksi petani.

Pada awal Juni lalu harga cengkih kering di Tolitoli masih Rp32.000 per kilogram. Tapi, menurut para petani, harga inipun masih lebih murah jika dibanding ongkos produksi.

Beberapa petani mengaku menjual lebih awal cengkihnya sebelum harga turun drastis hingga di bawah Rp30.000 per kilogram.

"Tidak perlu ditunggu banyak, yang penting sudah ada langsung saya jual," kata Herdy, petani cengkih asal desa Abaling, Kecamatan Baolan.

Berdasarkan pengalaman tahun-tahun sebelumnya, setiap memasuki panen raya harga cengkih di daerah produsen terbesar kedua di Indonesia ini setelah Kabupaten Minahasa tidak pernah bertahan tinggi, bahkan cenderung turun.

Para petani cengkih setempat menyatakan, setelah Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkih (BPPC) dibubarkan pada 1998 dan pemasaran cengkih diserahkan kepada mekanisme pasar, nasib mereka tidak juga mengalami perubahan sebab harga cengkih kering di daerah mereka selalu tidak menentu.

Bahkan seringkali di saat berlangsung panen raya hanya pembelian oleh pedagang pengumpul anjlok tidak ketulungan.

Ketua Forum Solidaritas Petani Tolitoli (FSPT), Ali Segaf Assegaf, menduga tidak menentunya harga cengkih di tingkat petani itu karena ulah pedagang yang sering memainkan harga.

Karena itu, katanya, untuk melindungi petani cengkih dari pemainan para spekulan dan pengusaha besar yang memiliki kekuatan modal, pihaknya meminta pemerintah segera menetapkan standar minimal harga cengkih seperti yang diberlakukan pada komoditas beras dan gula pasir.

Sebelumnya, FSPT mengancam akan mengelar aksi unjuk rasa besar-besaran dengan mengerahkan semua elemen masyarakat apabila harga cengkih kering di daerahnya sampai turun di bawah Rp30 ribu per kilogram.

Dinas Perkebunan Tolitoli memperkirakan produksi cengkih petani di daerahnya pada panen raya tahun 2007 bisa mencapai 4.000 ton dari panenan 24.958 hektar, atau meningkat hampir 50% dari produksi tahun lalu sebanyak 2.133 ton. (*/rsd)