< >

Harga Minyak di Perdagangan Asia Turun

Selasa, 26 Juni 2007 16:53
Kapanlagi.com - Harga minyak turun di perdagangan Asia, Selasa, dimana pasar tertekan oleh data cadangan bensin (premium) di Amerika Serikat (AS) di bawah normal.

Pada perdagangan pukul 10.53 waktu Singapura (02.35 GMT), kontrak minyak utama di New York, light sweet untuk pengiriman Agustus, turun empat sen menjadi 69,14 dolar AS per barel dibandingkan dengan 69,18 dolar dalam perdagangan di AS, Senin petang.

"Tingkat cadangan bensin di AS yang di bawah normal teru menekan pasar," kata Victor Shum, senior prinsipal di Purvin and Gertz di Singapura.

Shum mengatakan, cadangan minyak mentah AS berada di tingkat tertinggi selama sembilan tahun tetapi keraguan atas kemampuan produksi kilang minyak membuat pasar tidak yakin produksi bahan bakar minyak (BBM) mampu memenuhi peningkatan permintaan BBM saat puncak musim panas saat ini di Amerika Utara.

"Ini benar-benar seperti mengibaskan ekor anjing. Produksi bensin menyetir pasar minyak mentah," kata Shum.

Para analis dari Societe Generale mengatakan, permintaan bensin AS terus tumbuh dan nampaknya tetap dalam jalur untuk menghadapi pemenuhan target pada Juli 2005.

Pusat Studi Energi Global yang bermarkas di London, Senin, memperingatkan bahwa harga minyak akan naik dalam beberapa bulan mendatang kecuali bila Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) menurunkan produksi.

"Dunia butuh lebih banyak minyak jika kenaikan harga bisa dihindari," tulis kelompok riset energi berpengaruh itu dalam laporan bulanannya.

Namun Shum mengatakan, setiap kenaikan yang signifikan dalam produksi nampaknya tidak akan membantu sedangkan kilang-kilang masih menghadapi masalah dalam pemrosesan minyak mentah.

Sementara itu, Serikat pekerja di Nigeria mengakhiri pemogokan selama empat hari pada Sabtu lalu, menyusul tercapainya kesepakatan dengan pemerintah bahwa tidak akan terjadi peningkatan harga bahan bakar minyak (BBM) lebih lanjut selama tahun ini.

Sementara pemogokan telah berhenti, masih ada kekhawatiran jangka panjang atas stabilitas sektor minyak, kata pedagang. "Nampaknya akan turun sedikit tetapi secara umum, pemogokan itu sendiri telah mencerminkan resiko di seputar produksi (minyak) Nigeria," kata Gerard Burg, ekonom energi dan mineral dari National Bank Australia di Melbourne.

"Tidak ada upaya penghentian kerusuhan sipil di sana dan hal itu akan dapat terus mengganggu produksi...Saya pikir produksi secara umum masih beresiko di Nigeria," katanya.

Nigeria, produsen minyak mentah terbesar Afrika dengan 2,6 juta barel minyak per hari, telah kehilangan 25 persen ekspornya akibat kerusuhan di wilayah produksi sebelah selatan negeri tersebut.

"Hal itu menandakan kelompok militan telah memperoleh dukungan luas dan itu akan terus mengancam penghentian produksi," kata Burg. "Ke depan, akan mendorong kenaikan harga sebagai cerminan dari resiko." (*/erl)