
Putu Wijaya mengungkapkan gambaran tipu-menipu dalam Cipoa ini menggambarkan realitas bangsa ini yang sarat dengan aksi manipulatif dan korupsi yang telah mengakar.
"Korupsi bukan hanya dilakukan oleh pejabat yang menggondol uang negara, tapi juga oleh masyarakat kita secara tanpa sadar karena melihat perilaku pemimpinnya yang korup," katanya.
Ia juga tidak bermaksud melancarkan kritik pada pemerintah atau siapa pun juga, namun ingin mengangkat kondisi yang terjadi saat ini dengan lugas, khas gaya kelompok teater yang telah berproses sejak 1971 ini.
"Lakon kocak ini tak menyalahkan siapa-siapa, karena semua orang sudah ikut salah. Tak mencela apalagi mengejek siapa pun," ujar pria yang selalu tampil dengan topi pet putihnya ini.
Pementasan Cipoa diperkuat sejumlah pemain di antaranya Rieke Dyah Pitaloka, Butet Kertaredjasa, Yanto Kribo, Ucok Hutagaol, Alung Seroja, Wendy Nasution, dan sejumlah pekerja Teater Mandiri yang telah berpentas ratusan kali di dalam negeri dan luar negeri.
Aksi panggung para pemain seolah menjadi magnet bagi penonton untuk tetap berada di kursi hingga dua jam pertunjukan. Guyonan dan celetukan para pemain membawa suasana menjadi riuh dengan tawa penonton dan tepuk tangan.
Akting para pemain juga didukung dengan properti panggung yang unik, sederhana, menarik, sekaligus kreatif. Sebagian besar properti itu dibuat dari kain-kain bekas spanduk, kertas-kertas kardus bekas, dan koran bekas yang dirancang menjadi properti panggung yang apik. (*/boo)
Lihat Profil: Putu Wijaya, Rieke Dyah Pitaloka, Butet Kertaredjasa