"Lumpur yang dibuang ke Kali Porong itu akan mengendap. Kalau seperti itu, Kali Brantas di Mlirip akan meluap sehingga Mojokerto hingga Tulungagung dan Surabaya akan banjir," katanya pada pengajian BangbangWetan di Surabaya, Kamis (28/6) hingga tengah malam.
Pada pengajian yang dimotori Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) dan dipandu dosen Unair, Suko Widodo itu, Suprobo mengemukakan, jika semua itu terjadi, maka akan berpengaruh pada aspek pertanian dan perekonomian lainnya.
Menurut dia, kemungkinan kesulitan air bersih yang akan dialami Surabaya dan daerah lain di sekitarnya itu sudah pernah dibawa ke forum Unesco saat seminar di Belanda yang dihadiri sejumlah negara beberapa waktu lalu.
"Karena itu kemudian dunia menjadi `melek" (terbuka) mengenai masalah ini. Unesco juga mengirimkan utusan untuk mempelajari masalah ini, termasuk negara-negara lain menaruh perhatian, seperti Jepang, Belanda, Jerman dan Australia," ujarnya.
Ia mengaku, tim ITS saat ini belum menemukan formula yang betul-betul cocok untuk menangani luapan lumpur yang kini sudah memasuki tahun kedua itu. ITS saat ini hanya berupaya mengendalaikan dampak luapan lumpur itu bagi lingkungan dan perekonomian.
Tim ITS memprediksi, hingga 2010, luapan lumpur itu akan mencapai diameter dua kilometer dari titik semburan. Namun ketika ditanya sampai kapan lumpur itu akan terus meluap, ia tidak bisa menjawab secara tegas.
"Di Ukraina itu 30 tahun, di Lusiana Amerika Serikat 25 tahunan. Cuma kalau yang di Ukraina dan Lusiana, termasuk di Brasil itu jauh dari pemukiman penduduk, sehingga dibiarkan begitu saja tidak ada masalah. Kalau di Porong ini kan di tengah pemukiman," katanya.
Pada kesempatan itu, ia juga sempat menyebutkan bahwa dari data yang dikumpulkan oleh ITS, saat ini ada 12.000 KK yang menjadi korban lumpur itu. Dari jumlah itu, 5.000 KK memiliki data seperti sertifikat dan foto rumah.
"Sementara yang kasihan adalah, ada 4.000 KK yang hanya memiliki foto rumah, sedangkan surat-surat sudah tidak ada lagi dan yang 3.000 KK hanya ada di foto satelit," katanya.
Pengajian bulanan di gedung utama Balai Pemuda Surabaya dengan tema mengenai lumpur Lapindo itu dihadiri Ketua Dewan Pendidikan Jatim, Ir Daniel M Roasjid, PhD, sejumlah perwakilan warga dan perakilan 26 perusahaan yang menjadi korban luapan lumpur. (*/cax)