< >

Di India, Dokter Tolak Bantu Persalianan Ibu Penderita HIV/Aids

Jum'at, 29 Juni 2007 19:29
Kapanlagi.com - Seorang pria di India bagian utara, kota Meerut, terpaksa membantu kelahiran bayinya, karena para dokter menolak datang akibat istri pria itu mengidap HIV. Ini adalah stigma yang dialami penderita HIV.

Sunita (28 tahun), yang menjalani perawatan di rumah sakit pemerintah di Meerut, tidak jauh dari New Delhi, dibawa ke sarana itu ketika datang pada Rabu malam.

Namun, dokter dan petugas lain menolak menangani Sunita, bahkan tidak mengijinkan Sunita dibawa ke ruang bersalin, kata jaringan NDTV.

Ketika keadaannya menjadi gawat, suaminya, Rahee Abbas, seorang pelukis, terpaksa membantu kelahiran bayi, sementara dokter berdiri di sisinya memberikan perintah atau memandu proses kelahiran.

"Kami menghadapi banyak masalah. Tidak ada seorang dokter pun siap menyentuh saya. Suami saya harus menarik bayi itu keluar dan memotong tali pusar. Baik saya maupun sang bayi bisa saja meninggal," kata Sunita pada NDTV.

"Para dokter meminta kami pergi ke rumah sakit di Delhi dan mengancam akan menyerahkan kami ke polisi, karena menyebarkan penyakit kepada pasien lain di rumah sakit," tambah dia.

Kejadian itu menimbulkan protes di kalangan masyarakat kesehatan dan menyoroti ketidakadilan atas penyakit, bahkan di antara dokter.

Organisasi Pengendalian AIDS Nasional (NACO) mengungkapkan keterkejutan atas penolakan perawatan itu dan mengirimkan tim ke Meerut.

"Kami menerima laporan sikap dokter, yang masih memberi stigma itu. Ini saat mengejutkan dan sayang sekali terjadi," kata Sujatha Rao, Direktur NACO kepada saluran berita tersebut.

Sejumlah pasien HIV positif dan AIDS di India menghadapi diskriminasi, yang oleh pakar kesehatan dipersalahkan pada ketidakpedulian dan stigma, yang masih melingkupi penyakit itu.

Di samping kenyataan bahwa India memiliki jumlah terbesar penderita HIV di dunia, sekitar 5,7 juta dari 39,5 juta kasus HIV/AIDS di seluruh dunia.

Selain ditolak mendapatkan perawatan di rumah sakit dan klinik, penderita HIV positif di India mengalami diskriminasi di tempat kerja mereka dan ditolak keluarga, pasangan dan masyarakatnya.

Diskriminasi itu menghalangi upaya pencegahan infeksi baru dan membuat Presiden APJ Abdul Kalam meminta ahli hukum India membuat hukum untuk mengakhiri diskriminasi tersebut. (*/rsd)