< >

Iklim 2007, Kemarau Basah, Untungkan Petani

Jum'at, 29 Juni 2007 20:29
Kapanlagi.com - Iklim sepanjang tahun 2007 mirip dengan iklim tahun 2005 yang lautnya mencapai rekor terpanas dalam dekade terakhir. Ini mengakibatkan uap air yang banyak dan memunculkan kemarau basah yang banyak turun hujan.

"Ini cukup menguntungkan para petani karena cukup banyak hujan meskipun sudah kemarau, menjaga waduk untuk tetap penuh dan mengurangi resiko kekeringan," kata Pakar Meteorologi dari BPPT Dr Edvin Aldrian di Jakarta, Jumat.

Selain itu iklim seperti ini juga cukup menguntungkan untuk sektor kehutanan karena menurunkan angka kebakaran hutan.

Tahun 2005, urainya, dikenal sebagai tahun terpanas dalam suhu laut disusul tahun 1998, tahun 2002 dan kemudian tahun 2003, terbukti Jakarta pernah mengalami banjir pada bulan Juni-Juli pada 2005.

Jumlah titik api kebakaran hutan sepanjang 2007 yang tercatat di bawah satelit NOAA, ujarnya, bahkan masih jauh di bawah 2005 dan 2006.

Pada Mei 2005 tercatat ada 729 titik api sementara pada Mei 2006 ada 7.956 titik api dan pada Mei 2007 hanya 193 titik api. Sedangkan pada Juni 2005 terdapat 2.182 titik api, Juni 2006 1.129 dan Juni 2007 ada 370 titik api.

Kemarau basah, ujarnya, dipengaruhi La Nina dan Dipole Mode di barat daya Indonesia dan timur Afrika.

"Tahun ini keduanya masih lemah. La Nina masih jauh di bawah standar deviasi, yakni minus 0,46 dari standarnya lebih dari minus satu. Sementara Dipole Mode juga tidak bisa dibilang berpengaruh karena jauh dari standar, untuk di barat daya Indonesia hanya minus 0,23 dari standar deviasi di bawah minus 0,43, demikian pula dipole mode di timur Afrika," katanya.

Namun kemarau basah juga bisa merugikan di sektor lain, misalnya di sektor pariwisata dan konstruksi yang tidak berharap pada banyaknya curah hujan serta sejumlah tanaman yang membutuhkan iklim kering seperti tembakau dan jati.

Kemarau basah, menurut dia, juga diakibatkan pemanasan global. (*/rsd)


BERITA TERKAIT