"Pemerintah menetapkan Lampung sebagai destinasi beras impor, atau daerah penyangga untuk daerah sekitarnya, seperti Riau, Bengkulu, dan Jambi," katanya saat dihubungi dari Bandarlampung, Sabtu (30/6).
"Stok beras impor yang tersimpan di Gudang Bulog akan digunakan untuk penambahan stok di daerah lain yang kekurangan melalui 'movement' nasional. Pada tahap pertama, 3000 ton beras akan disalurkan ke Bengkulu," tambahnya.
Dalam rapat kerja Panja Bulog dan Pangan Komisi IV DPR dengan Bulog Divisi Regional Lampung di Bandarlampung, Kamis (28/6), terungkap adanya 29.000 ton beras impor tersimpan di Gudang Bulog di Bandarlampung.
Keberadaan beras impor itu sempat dipertanyakan berbagai kalangan, karena Lampung adalah lumbung padi nasional, dan dikhawatirkan beras itu disalurkan di wilayah Lampung sendiri.
Surplus beras di Lampung untuk tahun 2006 mecapai 180.000 ton, dan tahun 2007 diperkirakan 193.000 ton. Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Lampung menyebutkan produksi beras tahun 2006 mencapai 2,2 juta ton, dan ditargetkan 2,30 juta ton untuk tahun 2007, sementara Bulog memperkirakan produksi beras netto tahun 2007 sekitar 1,17 juta ton.
Indra mengatakan, pemerintah memutuskan Lampung sebagai destinasi beras impor untuk daerah- daerah sekitarnya karena Bulog Lampung memiliki gudang transit modern berkapasitas 30.000 ton di Soekarno-Hatta Bandarlampung, serta mudah dijangkau dari laut maupun udara.
Ia memberi contoh jarak antara gudang Bulog Soekarno-Hatta dan Pelabuhan Petikemas Panjang hanya tujuh kilometer, dan mudah terjangkau.
Menurut dia, kebijakan impor beras dilaksanakan oleh pemerintah pusat untuk kepentingan memenuhi stok beras nasional pada tingkat persediaan yang aman.
Disebutkannya dengan tegas bahwa beras impor yang tersimpan di gudang Bulog tidak akan disalurkan atau didistribusikan selama pengadaan beras masih berlangsung, sehingga tidak akan berpengaruh terhadap arus masuk gabah/beras ke dalam pengadaan.
Ia mengatakan, pengadaan dalam negeri (PDN) yang dilaksanakan oleh Perum Bulog Divre ampung tahun 2007 merupakan bagian dari penugasan pemerintah untuk melaksanakan pembelian gabah/beras hasil panen dalam negeri berdasarkan perhitungan 'marketable surplus'.
'Marketable surplus' tahun 2007 untuk Lampung diperkirakan 193.000 ton. Atas dasar itu, Bulog menyusun prognosa pembelian gabah/beras sebesar 75.785 ton atau 39% dari surplus beras tersebut.
Bulog disebutkannya telah melakukan pembelian beras sejak April- Juni 2007 sebanya 59.264 ton atau 79% dari prognosa, dan pembelian itu akan terus berlangsung hingga musim panen gadu. Namun, gabah/beras produksi Lampung yang terserap Bulog hanya 6,5%.
Ia mengatakan, realisasi pengadaan beras April- Juni 2007 itu telah melebihi pengadaan tahun 2006 sebesar 27.104 ton. (*/bun)