Lalat-lalat yang hinggap di sembarang tempat termasuk di tempat makanan milik warga, dikhawatirkan dapat menyebarkan bibit penyakit seperti diare dan lain-lain.
Terkait hal itu, Gede Wijaya, tokoh masyarakat Kusamba kepada Antara, Senin mengatakan, masyarakat di lokasi bekas genangan banjir luapan Tukad (sungai) Pancingan, sangat mengharapkan peran Pemkab setempat dalam upaya mencegah kemungkinan merebaknya beberapa jenis penyakit.
"Kita harapkan pemerintah dapat secepatnya turun tangan dalam melakukan upaya pencegahan, antara lain berupa pemeriksaan kesehatan bagi warga yang daerahnya sempat tergenang banjir," ucapnya.
Melalui cara itu, niscaya beberapa jenis penyakit yang biasa muncul di lokasi banjir, seperti diare dan gatal-gatal, dapat ditekan bahkan dihindari penyebarannya, katanya.
Sehari sebelumnya, puluhan warga tampak ramai-ramai menyingkirkan tumpukan sampah dan lumpur kiriman banjir.
Tumpukan dan serakan sampah yang harus dibersihkan penduduk tidak hanya berupa limbah rumah tangga seperti bekas bungkus plastik dan dedaunan, tetapi juga potongan-potongan kayu dan bambu.
Menurut warga, potongan-potongan kayu dan bambu tersebut diduga berasal dari batangan pohon yang tumbang setelah terkikis arus banjir. Sebagai bukti, tidak sedikit pepohonan termasuk rumpun bambu yang semula tumbuh di bagian pinggiran Tukad Pancingan, kini hilang dari tempatnya.
Selain menyingkirkan tumpukan sampah, sebagian warga Kusamba juga tampak menjemur barang-barang seperti kasur dan kursi yang sempat terendam banjir yang tingginya mencapai batas pinggang orang dewasa.
Namun demikian, banjir yang mencapai puncaknya pada Kamis (28/6) lalu, kini sudah surut dari kawasan pemukiman penduduk.
Sementara banjir yang muncul di aliran sungai tetangganya, Tukad Unda, tidak hanya sempat menggenangi beberapa hektar areal pertanian tetapi juga "menggusur" puluhan gubuk liar.
Sedikitnya 20 gubuk liar milik para penambang pasir di bagian muara sungai yang lebarnya dalam ratusan meter itu, tersapu banjir.
Rongsokan gubuk yang tergusur itu kini beberapa di antaranya tampak terapung-apung di daerah muara Tukad Unda, di kawasan pantai selatan Kabupaten Klungkung.
Gubuk-gubuk yang didirikan para penambang pasir lahar Gunung Agung yang meletus dahsyat 1963, umumnya terbuat dari bambu, berdinding gedek (bilik) dan beratapkan seng atau ilalang.
Dari sekitar 80 penambang yang bekerja, tidak sedikit yang tercatat telah cukup lama menetap, bahkan sembari memelihara ternak di kawasan gubuknya itu.
Namun malang, sebagian dari gubuk tersebut kini tinggal puing-puing setelah dibongkar dan digusur paksa aliran Tukad Unda yang mengamuk sejak pertengahan pekan lalu.
Pihak Polsek Klungkung yang turun ke tempat kejadian menyebutkan, dalam musibah tersebut tidak tercatat menelan korban jiwa manusia terkecuali beberapa ekor ternak seperti itik dan ayam hanyut tersapu banjir.
Tidak hanya unggas, seekor anak sapi dan dua ekor kambing milik penghuni gubuk liar, juga dilaporkan hilang bersamaan dengan datangnya luapan air setinggi lebih dari 1,5 meter di atas permukaan air sungai dalam kondisi normal, kata petugas. (*/cax)