Pasar Amerika dan Jepang, misalnya, permintaan dari Indonesia cukup tinggi," ungkapnya di Surabaya, Senin.
Menurut dia, komoditi udang jenis Vaname dari Indonesia kini bahkan mulai menggeser pasar udang windu yang sempat meraih masa keemasan pada tahun 1980-an.
Pada dekade itu, udang windu yang banyak dibudidayakan di Makassar, Aceh dan Jatim, sempat "booming".
Tapi, produksi udang windu dalam empat-lima tahun belakangan cenderung menurun, karena berbagai sebab, seperti bibit kurang sehat serta kondisi lingkungan yang terus dipacu berproduksi, sehingga hasilnya semakin tidak bisa optimal.
"Sejak itulah, budidaya udang jenis Vaname banyak menggantikan udang windu. Udang Vaname dari Ekuador itu sendiri sebelumnya juga telah dibudidayakan oleh China dan Thailand," ujarnya.
Udang windu dan vaname memang ada berbedaan tampilan. Udang Windu, "black tiger", misalnya, bodinya besar dan ketika dimasak warna hitam cepat berubah menjadi merah cerah. Sedangkan Vaname lebih kecil, warnanya cenderung merah orange.
Ia mengakui, persaingan pasar udang jenis Vaname sangat kompetitif. Kendati begitu, udang Vaname dari Indonesia masih sangat berpeluang meraih pasar di dunia.
Contohnya, Amerika Serikat (AS) yang pada 2006 mengimpor udang sekitar 600 ribu ton, 10% diantaranya dari Indonesia. Indonesia menduduki peringkat empat setelah Thailand, China, Ekuador.
"Permintaan pasar Jepang yang sekitar 230 ribu ton, udang Indonesia menempati urutan kedua setelah Vietnam," papar Johan Suryadharma. Padahal, Indonesia pada 2001 menempati urutan pertama dengan kontribusi sekitar 55 ribu ton, sedangkan Vietnam masih 35 ribu ton.
Johan yang juga Ketua III Komisi Udang Indonesia itu, lebih lanjut mengemukakan, produksi udang Indonesia pada 2007 diproyeksikan sekitar 350 ribu ton.
Dia berharap, proyeksi produksi udang tersebut bisa dicapai, mengingat budidaya udang yang dikembangkan petambak saat ini hampir semuanya dilakukan secara intensif dan setengah intensif.
Produksi udang yang dibudidayakan dengan sistem tersebut saat ini berkisar 30-40 ton per hektar per tahun, sedangkan harga udang antara Rp35 ribu hingga Rp40 ribu per kilogram, meski beberapa waktu lalu sempat menyentuh harga terendah antara Rp14 ribu hingga Rp15 ribu per kilogram. (kpl/rit)