"Kami sedang meneliti land subsidance itu dengan radius lima kilometer dari pusat semburan," ujar ahli geofisika ITS Surabaya, Dr Widya Utama DEA di Surabaya, Senin.
Peneliti dari Laboratorium Geofisika F-MIPA ITS Surabaya itu menjelaskan, penurunan tanah itu bisa terjadi, karena tanggul yang dibangun setinggi 21 meter justru kini tinggal tujuh meter.
"Artinya, penurunan tanah itu pasti terjadi. Tapi sejauh mana belum dapat diprediksi. Karena itu, kami melakukan penelitian itu untuk kepentingan relokasi warga," tegasnya.
Menurut dosen jurusan Fisika F-MIPA itu, penelitian land subsidance itu dilakukan hingga akhir tahun untuk kawasan di Sidoarjo dan Pasuruan yang mungkin mengalaminya.
"Penurunan itu terjadi, akibat lumpur keluar terus tanpa henti. Bahkan masa atau volume lumpur yang keluar saat ini sudah mencapai 125 ribu meter kubik per-hari," ungkapnya.
Akibat keluarnya jutaan meterkubik lumpur dari perut bumi selama lebih dari 13 bulan terakhir itulah, katanya, di bawah permukaan tanah terjadi rongga atau terowongan yang menyebabkan tanah mengalami penurunan.
"Berapa lebar, luas, dan kedalaman penurunan itu, masih kami teliti. Kami prediksikan luas `land subsidance` lebih luas dari luas lumpur yang keluar. Karena itu, kami meneliti dalam radius lima kilometer dari pusat semburan," kilahnya.
Ditanya kemungkinan land subsidance terjadi hingga ke Surabaya, ia menyatakan hal itu tidak mungkin, karena struktur geologi-nya berbeda dan jaraknya juga terlalu jauh.
"Yang jelas, penelitian yang mungkin akan selesai hingga akhir tahun ini akan sangat penting untuk relokasi warga, jembatan, dan sebagainya. Sebab, tanpa penelitian land subsidance maka relokasi bisa sia-sia," paparnya. (*/cax)