< >

WNI Nagoya Soroti Persoalan Prosedur Kewarganegaraan

Senin, 02 Juli 2007 13:52
Kapanlagi.com - Warga Negara Indonesia yang berada di Nagoya dan sekitarnya terlihat antusias menyambut sosialisasi UU Kewarganegaraan yang diadakan KBRI Tokyo, sehingga beragam persoalan dari yang sepele hingga berbelitnya prosedur pengurusan keimigrasian menjadi sorotan sekitar dua ratus lebih pendatang tersebut.

Atase Imigrasi KBRI Tokyo Mirza Iskandar di Nagoya, Senin, menilai, banyaknya pertanyaan yang muncul dalam kegiatan sosialisasi UU No.12/2006 tentang Kewarganegaraan itu sebetulnya merupakan perhatian besar dari warga Indonesia untuk mengetahui secara pasti pengurusan berbagai dokumen yang menjelaskan status mereka selama di Jepang.

"Ini merupakan hal yang positif. Banyaknya pertanyaan yang diajukan tadi menunjukan mereka sebetulnya ingin memperoleh segala dokumen yang pasti dan sah yang bisa menjelaskan status mereka sehingga bisa tenang selama berada di Jepang," katanya.

Sejumlah tim kecil, akhir pekan lalu (Minggu, 1/7), berangkat ke Nagoya, salah satu kantong keberadaan warga Indonesia di Jepang, untuk melakukan sosialiasi dari UU kewargannegaraan yang baru sekaligus memberikan pelayanan seputar keimigrasian dan konselerasi.

Bertempat di sebuah balai pertemuan warga, sebanyak 225 warga Indonesia bersama anak-anaknya berdatangan ke lokasi yang sudah disepakati bersama itu. Hari Minggu menjaid pilihan bersama, karena pada hari itulah para pekerja dan warga keturunan bisa selama mungkin melakukan konsultasi.

Aksi jemput bola KBRI Tokyo itu juga sebagai upaya untuk memperoleh data terbaru mengenai keberadaan seluruh warga Indoesia di seantero Jepang dan memberikan solusi terhadap berbagai persoalan yang dihadapi warga Indonesia.

Tim kecil yang terdiri dari bidang imigrasi dan konsuler sehari penuh melakukan penyuluhan serta menggelar loket pengurusan keimigrasian di tempat. Layanan yang diberikan mulai dari lapor diri, pengurusan paspor, visa hingga akte perkawinan dan pencatatan kelahiran bagi anak hasil kawin campur antara warga Indonesia dengan Jepang disediakan.

Kota Nagoya, merupakan kota terbesar ke tiga di Jepang setelah Tokyo dan Osaka. Kota tersebut merupakan sentra bagi warga Indonesia keturunan Jepang. Nagoyayang berada di Propinsi Aichi, dikenal sebagai kota industri dan manufaktur, tempat Toyota, perusahaan mobil nomor satu dunia asal Jepang, membangun kerajaan bisnisnya.

Disitu juga terdapat sedikitnya 7.000 populasi Indonesia yang mengadu nasib atauoun melanjutkan studinya ke tingkatan master dan doktoral, terutama di bidang teknik dan ilmu pengetahuan alam.

Tanya Jawab

Berbagai pertanyaan pun terlontar dari para warga, mulai dari sikap sombong petugas KBRI hingga berbelitnya prosedur yang harus dijalani, seperti tindakan "mem-pingpong" warga dalam pengurusan paspor atau sekedar uk mengurusi visa.

Menanggapi hal itu Baik Atase Imigrasi Mirza Iskandar maupun Penanggungjawab bidang Konsuler Amir Harahap menjelaskan bahwa pihak KBRI Tokyo saat ini sedang mengadakan pembaharuan sehingga aksi jemput bola ini merupakan langkah pro aktif untuk memberikan pelayanan yang lebih baik lagi.

Menyinggung soal sikap, dijelaskan bahwa pelayanan di loket-loket sudah diperbaiki dan lebih ramah, sedangkan untuk tindakan petugas loket yang mempingpong antara Tokyo dan Osaka, dipastikan tidak ada lagi, karena dimana saja warga Indonesia berada bisa mengurus dokumen-dokumennya di lokasi-lokasi terdekat.

"Silahkan catat nama dan loketnya sehingga bisa dilaporkan segera dan bisa diambil tindakan seperlunya," ujar Mirza Iskandar.

Kemudian ada lagi seorang ibu yang bersuamikan Jepang menanyakan soal dwi kenegaraan yang baginya masih belum jelas. Mengenai hal itu Mirza Iskandar mengatakan bahwa berdasarkan UU kewarganegaraan yang baru, setiap anak Indonesia yang lahir dari perkawinan campur bisa langsung memperoleh kewarganegaraannya.

"Barulah setelah anak itu berumur 18 tahun nanti silahkan memilih sendiri kewarganegaraan yang didinginkannya. Yang jelas ketentuan baru ini lebih memberikan kepastian bagi nasib anak Indonesia hasil kawin campur," ujarnya.

Di hadapan sekitar 225 warga yang hadir, Mirza Iskandar juga memaparkan bahwa warga Indonesia di Jepang menempati urutan nomor tujuh bagi pelanggaran imigrasi, kebanaykaan adalah persoalan ?over stay? atau masa tinggal di Jepang.

"Untung saja bukan pelanggar kejahatan atau kriminal, namun demikian hal itulah yang mau kita kikis perlahan-lahan, melalui aksi jemput bola ini," ujar atase imigrasi yang baru berdinas di Tokyo akhir tahun lalu itu.

Warga yang datang tidak saja dari Nagoya, tetapi juga kota-kota sekitar Nagoya menyambut baik penyuluhan yang dilakukan. Apalagi hal itu bisa menghemat waktu dan biaya serta tenaga.

"senang sekali bisa mendapat pelayanan seperti ini, karena kalau datang ke Tokyo bisa memakan waktu empat sampai lima jam perjalanan,` kata Ali Amran Harahap, yang baru saja menikahi perempuan Jepang.

Harahap yang sudah tinggal di Nagoya selama enam tahun, merasa senang karena dokumen resmi mengenai pernikahannya, serta pengurusan paspornya bisa diselesaikan dengan cepat.

"Walau belum bisa mendapatkan surat keterangan yang resmi, karena kurangnya persyaratan yang diminta, namun saya senang sudah mendapatkan kejelasan dan jaminan dokumen yang diurusnya sudah dapat diselesaikan," ujarnya sekaligus menunjukkan formulir yang sudah diberi cap KBRI.

Setelah Nagoya, target selanjutnya adalah kota Hiroshima, kota yang juga menjadi kantor warga Indonesia di selatan Jepang itu. Sebelumnya kota Niigata sudah lebih dulu menjadi tujuan pelayanan jemput bola tersebut.

Berdasarkan data kementrian kehakiman Jepang, sedikitnya ada 25 ribu warga Indoensia yang tersebar di seluruh negara kepulauan itu. (*/cax)