"Potential loss-nya bisa mencapai Rp4 triliun pada 2008 bila ancaman ini diberlakukan," kata Praktisi pariwisata dan CEO Panorama Tours, Dharma Tirtawisata, di Jakarta, Selasa.
Ia mengatakan, jumlah turis Eropa yang datang ke Indonesia mencapai 700 hingga 800 ribu orang per tahun. Sekitar 35 hingga 40% atau 250 ribu di antaranya merupakan turis yang mengambil paket wisata antar pulau, sehingga mau tidak mau harus menggunakan penerbangan domestik sebagai alat transportasinya.
"Satu orang turis menghabiskan US$1.450 selama 15-17 hari untuk wisata, sehingga bila dikalikan 250 ribu orang dengan jumlah uang yang mereka belanjakan bisa mencapai US$400 juta," katanya.
Sedangkan untuk Panorama Tours sendiri yang selama ini banyak melayani paket wisata untuk warga Eropa hingga kini telah menerima 1.000 pemesanan untuk paket wisata antar pulau di Indonesia.
"Dalam setahun kami melayani khusus untuk turis Eropa sekitar 25.000 sampai 30.000 orang," katanya.
Ia mengatakan, market Eropa memang belum juga pulih pasca bom Bali 2002. "Market Eropa yang dulu menguntungkan, sejak 2002 tidak menguntungkan lagi. Ditambah lagi dengan adanya larangan ini kami khawatir akan diikuti oleh negara-negara lain, seperti Jepang dan Australia," katanya.
Perlu 4 Tahun
Sementara itu praktisi pariwisata dari PT Marintur, Hasiyanna S. Rainier, mengatakan, akibat pelarangan itu tamu-tamu dari Eropa berpikir ulang untuk berwisata ke Indonesia.
"Bahkan banyak operator pariwisata yang berpotensi menghapus Indonesia dari agenda paket wisata mereka, sehingga kita perlu waktu lebih lama dari empat tahun untuk mengembalikan Indonesia sebagai tujuan wisata," katanya.
Marintur sendiri untuk market Eropa setidaknya melayani sebanyak 12.000 turis dalam setahun dengan total biaya per orang sekitar US$1.500. Akibat larangan itu pihaknya berpotensi kehilangan pendapatan sekitar US$18 juta dalam setahun.
Sedangkan pimpinan ASITA (Association of The Indonesian Tours & Travel Agencies), Herna P. Danuningrat, mengatakan, ancaman yang dikeluarkan UE mempunyai dampak negatif sangat luas.
"Bagi industri pariwisata, daerah tujuan wisata yang menjadi second destination yang tidak mempunyai penerbangan asing langsung ke kota tujuan wisata akan menderita berat, seperti Maluku, Sulawesi, Papua, Lombok, Nusa Tenggara, dan Kalimantan Selatan," katanya.
Ia mengatakan, itu berarti target kunjungan wisatawan mencapai enam hingga tujuh juta per tahun terancam gagal. Oleh karena itu, pihaknya meminta semua maskapai penerbangan Indonesia melakukan instrospeksi dan mengambil langkah untuk meningkatkan standar keselamatan penerbangan sesuai standar internasional.
"Kita juga minta kepada Presiden SBY, please help us and we will help you untuk meyakinkan semua pihak terkait di Eropa perihal tindakan perbaikan sedang dilakukan, agar pernyataan tersebut bisa ditarik kembali," katanya. (*/rit)