"Penangkapan ini menyelamatkan banyak nyawa orang yang tidak bersalah," kata jurubicara angkatan darat Kolomel Atthadej Mathanom setelah satu operasi gabungan polisi dan tentara di sebuah sekolah agama.
Polisi mengatakan orang-orang itu, yang berusia antara 16 dan 34 tahun adalah "pembuat-pembuat bom penting" yang bertanggungjawab atas serangan-serangan terhadap prasarana dan pasukan di Narathiwat, salah satu dari tiga provinsi di mana lebih dari 2.300 orang tewas dalam tiga tahun pemberontakan separatis.
Lima dari tujuh orang itu masuk dalam daftar orang yang dicari, kata kepala kepolisian wilayah selatan Letjen Jetnakorn Naphitabhata kepada Reuters melalui telepon.
Operasi itu, yang melibatkan 200 polisi dan tentara berlangsung dua jam untuk menerobos kepungan 700 pelajar di sekitar sekolah itu, Senin, menemukan serbuk mesiu, arloji tangan , baterai, telepon genggam dan sebuah tabung gas, yang mungkin digunakan untuk membuat bom, kata polisi.
Operasi itu menyusul satu laporan oleh seorang warga desa yang menemukan noda-noda darah dan pecahan peluru di kebun karetnya dekat sekolah itu setelah satu ledakan pada malam hari, kata Atthadej.
Pasukan keamanan mengatakan sekolah-sekolah seperti itu adalah lokasi perekrutan bagi gerilyawan di satu daerah yang dulunya adalah kesultanan independen sampai Thailand mencaploknya seabad lalu.
Di provinsi terdekat, Pattani, dua gerilyawan yang bersenjatakan sebuah senapan AK-47 dan sebuah pistol ditembak mati oleh tentara ketika mereka sedang meletakkan tiga bom di bawah sebuah jembatan, Selasa, kata polisi. (*/rsd)