< >

Kalsel Siaga Hadapi Bencana Asap Tahunan

Kamis, 05 Juli 2007 09:45
Kapanlagi.com - Menjelang musim kemarau tiba yang diperkirakan sekitar akhir Juli atau awal Agustus, Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel), seperti juga provinsi "penghasil asap" lainnya, telah bersiaga menghadapi bencana asap yang timbul setiap tahun akibat kebakaran lahan dan hutan.

"Kebakaran lahan dan hutan menimbulkan dampak yang sangat besar, baik dari segi sosial ekonomi dan budaya, transportasi, terhentinya proses belajar mengajar, hubungan internasional, kesehatan masyarakat dan lingkungan hidup," kata Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Kalsel, H. Suhardi Atmoredjo, di Banjarmasin, Rabu malam.

Menurutnya, bencana asap yang terjadi di wilayah Kalsel sebagian besar atau sekitar 75 persen merupakan kontribusi dari kebakaran lahan akibat kebiasaan masyarakat membakar lahan dalam persiapan pengelolaan lahan menjelang musim tanam, karena cara ini dianggap paling murah dan cepat.

Pada tahun 2006 misalnya, yang merupakan tahun bencana asap terbesar dalam sepuluh tahun terakhir, data Kantor Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalsel menunjukkan dari 5.813 hotspot (titik panas) sebanyak 1.585 hotspot atau 27,27 persen terjadi dalam kawasan hutan, sedangkan 4.228 hotspot atau 72,73 persen terjadi di luar kawasan hutan.

Jumlah luas areal yang terbakar pada tahun lalu, katanya, mencapai 2.991 hektar terdiri dari hutan 655 hektar, tanaman 476 hektar dan lahan 1.860 hektar. Bencana asap yang muncul juga kian pekat, karena sebagian lahan yang terbakar merupakan lahan gambut dengan kedalaman hingga dua meter.

Oleh karena itu, kata Suhardi, Dinas Kehutanan, BKSA dan Bapedalda dibantu instansi terkait lainnya seperti TNI dan Polri serta Masyarakat Peduli Api (MPA) telah melakukan kegiatan pencegahan dan pengendalian kebakaran hutan dan lahan, sehingga untuk tahun ini akan lebih siap menghadapi bencana asap tersebut.

Sementara itu Kepala Brigade Pengendalian Kebakaran Hutan Provinsi/Kepala Balai KSDA Kalsel, Siswoyo, yang bertugas memimpin pengendalian kebakaran hutan di provinsi, mengatakan pihaknya telah menyiapkan dua daerah operasi (daops), yaitu Daops Tanah Laut yang meliputi 4 wilayah kabupaten dan Daops Tanah Bumbu yang meliputi 7 wilayah kabupaten.

"Daops tersebut didukung oleh 8 unit mobil slip-on, 8 unit monilog, 16 unit sepeda motor, 20 unit pompa air, 16 buah collapsible tank berkapasitas 1 ribu liter dan 2,5 ribu liter, peralatan tangan dan logistik, peralatan telekomunikasi, peralatan deteksi dan perlengkapan pribadi," jelasnya.

Kendala yang dihadapi, kata dia, antara lain rasio luas kawasan hutan dan lahan dengan jumlah penduduk tidak seimbang, kurangnya kesadaran dari pelaku usaha dan masyarakat dalam melakukan pembukaan lahan dan lokasi kebakaran sebagian besar berada di lahan gambut.

Selain itu, aksesibilitas ke lokasi kebakaran sulit, kesadaran masyarakat akan dampak kebakaran masih rendah, belum adanya teknologi sistim deteksi dini kebakaran hutan dan lahan serta ketrampilan petugas pemadam kebakaran masih belum maksimal.

Namun, kata dia, diperkirakan kebakaran lahan dan hutan pada tahun ini akan jauh berkurang dibanding tahun lalu. Apalagi jumlah sebaran hotspot yang terpantau oleh Satelit NOAA hingga Juni tahun ini baru mencapai 20 hotspot, yang terjadi 2 titik di kawasan hutan dan 18 titik di luar kawasan hutan.

Ditambah lagi, berdasarkan prakiraan BMG musim kemarau di wilayah Kalsel pada tahun ini akan berlangsung normal, namun dalam perkembangannya dinamika atmosfer sampai saat ini menunjukkan pendinginan "sea surface". Diprediksikan cenderung adanya gejala La Nina (kebalikan dari El Nino) dalam arti hujan akan masih tetap turun walaupun pada musin kemarau. (*/rit)