< >

Mulai Luntur, Nilai Kerukunan di Lingkungan Masyarakat Bali

Kamis, 05 Juli 2007 23:42
Kapanlagi.com - Wakapolda Bali Brigjen Pol Drs Nyoman Gde Suweta menyatakan bahwa nilai kerukunan dan keharmonisan hidup secara berdampingan di lingkungan masyarakat Bali, belakangan ini terlihat mulai luntur.

"Lunturnya sikap kebersamaan itu terlihat dari cukup seringnya muncul aksi pertikaian dan konflik antarbanjar atau dusun serta soroh (klen) tertentu di lingkungan masyarakat Pulau Dewata," kata Wakapolda di sela-sela acara pelantikan sejumlah pejabat teras di jajaran Polda Bali, di Denpasar, Kamis.

Pejabat teras yang dilantik tersebut, Karo Ops Polda Bali Kombes Pol Ismail Ernawi menggantikan Kombes Pol Wayan Wesma, Karo Log Kombes Pol Sunardjo menggantikan Kombes Pol Suharno, dan Kapuslabfor Polri Cabang Denpasar Kombes Pol Muchibin Abdul Kadir menggantikan Kombes Pol Subagiyanto.

Selain itu dilantik pula empat pemimpin direktorat yakni Dirlantas Polda Bali Kombes Pol Lukman W Haryanto menggantikan Kombes Pol Anton Setiadi, Direskrim Kombes Pol Wilmar Marpaung menggantikan Kombes Pol Anas Yusuf, serta Dirsamapta AKBP Triyanto menggantikan Kombes Pol Lukman W Haryanto.

Ia menyebutkan, sumber konflik yang muncul di kawasan soroh dan banjar tersebut, tidak jarang dipicu oleh hal-hal yang sepele, seperti pergesekan antaranak muda, pengaruh minuman keras dan lain-lain.

Di samping itu, sumber konflik antarwarga juga tidak jarang muncul oleh hal-hal yang sesungguhnya tidak harus diselesaikan melalui cara kekerasan dan "peperangan".

"Hal-hal yang dapat menyulut konflik hingga sempat memunculkan aksi kekerasan itu, antara lain masalah rebutan tapal batas desa, soal kuburan massal dan bahkan `laba` (tanah garapan) pura," ucapnya.

Dikatakan, masalah yang seharusnya tidak perlu diperebutkan dengan perbuatan yang sia-sia, malah kemudian harus ditempuh dengan tindak kekerasan atau aksi perusakan dan pembakaran.

"Ini mununjukkan bahwa nilai kerukunan dan keharmonisan dalam hidup bersama di masyarakat, telah luntur di lingkungan orang-orang Bali, tidak seperti yang sempat diwariskan para nenek moyang dahulu," kata Suweta.

Terkait itu, Wakapolda meminta masyarakat untuk dapat kembali mencermati dan meneladani nilai-nilai luhur tentang kerukunan hidup dalam bersyarakat yang kini "warnanya" semakin majemuk.

Melalui cara itu, niscaya konflik yang belakangan kerap muncul di masyarakat dapat diredam bahkan ditiadakan, katanya menandaskan. (*/rsd)