"Kami takut melaut karena sejak tiga hari terakhir ini angin sangat kencang. Begitu pula gelombang sangat tinggi," kata salah seorang nelayan asal Pulau Tidore, Malut, Safruddin Marsaoli di Ternate, Sabtu.
Mereka kini berdiam di rumah menunggu normalnya kembali cuaca. Mereka tak mau memaksakan diri melaut, sebab selain takut mengalami musibah, juga dalam kondisi cuaca seperti ini, ikan sulit ditangkap.
Banyaknya nelayan Malut yang tidak melaut tersebut, mengakibatkan harga ikan di pasaran setempat melonjak. Di Ternate, harga ikan cakalang ukuran sedang yang biasanya Rp10.000 per ekor melonjak menjadi Rp30.000 per ekor.
Sementara itu, Kepala Bidang Prakiraan Cuaca BMG Ternate I Wayan Musreana menjelaskan, buruknya cuaca di perairan Malut tersebut, dipengaruhi oleh adanya pergantian dari musim hujan ke musim kemarau.
Kecepatan angin di perairan Malut saat ini 18 knot sampau 36 knot atau 18 km sampai 36 km per jam, sementara normalnya tiga knot sampai 10 knot atau lima km sampai 18 km per jam. Kecepatan angin tersebut berbahaya, terutama untuk kapal kecil.
Sedangkan ketinggian gelombang di perairan Malut, terutama di perairan Halmahera Utara, Halmahera Timur, Halmahera Selatan dan perairan Pulau Ternate mencapai 2,5 mter. Ketinggian gelombang ini juga berbahaya bagi kapal-kapal kecil.
Cuaca buruk tersebut diperkirakan akan berlangsung empat hingga tujuh hari mendatang. Untuk itu, para nelayan di Malut, terutama nelayan yang memiliki kapal kecil, diimbau jangan memaksakan diri melaut. (*/cax)