Bali Tak Perlu Ketakutan Atas 'Peringatan' Australia

Kapanlagi.com - Bali tidak perlu terlalu ketakutan atas peringatan Australia yang menyatakan kemungkinan akan adanya serangan teroris lagi di Indonesia, termasuk Pulau Dewata, tetapi kewaspadaan perlu ditingkatkan.

Masalah teroris serahkan saja penanganannya kepada aparat keamanan, dan yakinkan bahwa Bali saat ini aman dan nyaman untuk dijadikan tempat berwisata, komentar pengamat pariwisata, Dewa Rai Budiasa di Denpasar, Senin.

Pemerintah dan masyarakat Indonesia harus berterimakasih atas peringatan dari Australia itu, dengan selalu meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai tindak kejahatan termasuk teroris yang bisa mengancam negeri ini.

Ia mengatakan, aparat keamanan termasuk polisi di Indonesia, sudah gencar melakukan operasi penangkapan terhadap pelaku-pelaku teror, sedangkan masyarakat hendaknya ikut membantu penumpasan masalah kejahatan tersebut.

Komponen pariwisata hendaknya tetap melakukan aktifitas secara profesional kepada wisatawan yang berlibur ke Bali, sehingga para pelancong merasa aman dan nyaman.

Cara itu bisa dilaksanakan dengan tenang, sebagai upaya nyata memulihkan kondisi kepariwisataan, khususnya dalam membangun kepercayaan terhadap dunia, bahwa Bali dan Indonesia aman, serta layak dikunjungi, kata Dewa Rai.

Peringatan Australia diikuti larangan pemerintah Negeri Kanguru itu meningkatkan level travel advisory dan meminta kepada masyarakatnya untuk berpikir dua kali jika ingin bepergian menuju Indonesia, dirasa sangat wajar.

Tetapi, kata Dewa Rai, pihaknya yakin orang Australia secara pribadi, tidak akan banyak mengikuti anjuran dari pemerintahnya, sebab semua itu hanyalah kewajibaan dari pemerintahnya untuk mengingatkan rakyatnya.

Dewa Rai mengatakan, sesuai pengalaman yang ada selama ini, banyak pemerintah luar negeri mengingatkan rakyatnya untuk tidak datang ke Indonesia, tetapi nyatanya turis Australia masih mengalir berdatangan ke Pulau Dewata.

Masalah keamanan dan kenyamanan merupakan kebutuhan setiap orang, baik itu pelancong maupun masyarakat setempat, oleh sebab itu keamanan dan kenyamanan perlu diciptakan semua pihak dimanapun mereka berada, saran Dewa Rai.

Di Bandara Ngurah Rai, misalnya, pedagang makanan yang memanfaatkan kompor gas di dalam gedung perlu ditertibkan, karena merupakan ancaman bagi keselamatan, jika terjadi ledakan tabung gas akibat kelalaian pekerja atau pemiliknya.

Kondisi bandara itu sempat menjadi sorotan oleh sejumlah wisatawan yang pernah singgah ke Bandara Ngurah Rai, tutur Dewa Rai sambil menuding banyak pemandu wisata yang beroperasi di Bali tidak mengetahui kondisi budaya dan adat daerah ini.

Kondisi itu termasuk menjadi ancaman dunia pariwisata Bali, oleh sebab itu baik pemerintah maupun komponen pariwisata seperti ASITA dan HPI (Himpunan Pramuwisata Indonesia), perlu menertibkan anggotanya demi kenyamanan wisatawan di Pulau Dewata, demikian Dewa Rai. (*/rit)

©2003-2007 KapanLagi.com