"Kami dan BP Migas (Badan Pelaksana Hulu Minyak dan Gas Bumi) masih bekerja mendapatkan sisa dana itu," kata Wakil Direktur Eksekutif Sumber Daya Manusia dan Hubungan BP Indonesia Nico Kanter di Jakarta, Kamis.
Ia menargetkan, sisa pendanaan tersebut bisa diperoleh tahun ini.
Total pendanaan Tangguh mencapai US$6,5 miliar yang terdiri dari tiga miliar dolar berupa modal sendiri dan US$3,5 miliar berupa pinjaman.
BP sudah mendapatkan pinjaman dari bank internasional US$2,616 miliar yang sudah ditandatangani 1 Agustus 2006.
Pinjaman itu berasal dari Japan Bank for International Coorporation (JBIC) US$1,2 miliar, Asia Development Bank (ADB) US$350 juta , dan komersial bank US$1,066 miliar .
Bunga pinjaman tersebut hanya London Interbank Offered Rate (LIBOR) plus 0,25% dengan jangka waktu 15 tahun.
Sedang, sisanya 884 juta dolar sebenarnya tengah diupayakan berasal dari perbankan China, namun hingga saat ini belum ada kepastian.
Nico mengatakan, selain China, pihaknya juga telah mengundang pendanaan lain baik asing maupun lokal.
"Kita undang secara terbuka, tidak lagi khusus. Kita lakukan di luar negeri dan Jakarta," ujarnya.
Sejumlah bank dalam negeri seperti Bank Mandiri, BCA, dan BNI sudah menyatakan minatnya mendanai pembangunan kilang LNG Tangguh.
Namun, bank lokal tersebut mengaku sulit jika memberikan bunga rendah seperti pinjaman internasional Tangguh sebelumnya.
Namun, lanjutnya, sebenarnya sisa pendanaan tersebut tidak mempengaruhi proyek LNG Tangguh secara keseluruhan.
Sebab, pihak BP Plc sebagai induk perusahaan siap menalanginya.
Mengenai proyek Kilang LNG selanjutnya, Nico mengatakan, saat ini, BP sedang melakukan studi kelayakan.
Sementara itu, Kepala Ekonom BP Plc Christof Ruehl mengatakan, permintaan LNG dunia dalam beberapa tahun mendatang akan mengalami kenaikan.
Tahun ini, ia memprediksi terjadi pertumbuhan permintaan sebanyak 12%.
"Peningkatan pertumbuhan ini dua kali lebih besar dibandingkan tahun lalu," ujarnya.
Produksi gas Indonesia mencapai 2,6% dari produksi dunia.
Tahun 2005, total produksi gas dunia mencapai 2,79 triliun meter kubik yang 73,8 miliar meter kubik di antaranya dari Indonesia.
Sedangkan tahun 2006, produksi gas dunia mencapai 2,85 triliun meter kubik yang 74 miliar meter kubik merupakan produksi Indonesia. (*/rsd)