
Tabloid yang dicetak perdana 55.555 eksemplar ini diklaim sebagai media yang merangkum serta mengakomodir semua komunitas radio di seluruh Indonesia. Bahkan dana yang dikucurkan guna penerbitan tersebut pula tak mahal. Hal itu dibenarkan Agus yang dijumpai belum lama berselang di sebuah kafe bilangan Selatan bagian Jakarta.
"Pokoknya nggak sampai satu M. Saya masih bisa hemat untuk sepuluh penerbitan ke depan. Bahkan saya yakin break even point akan kembali pada edisi kelima," tegas laki-laki berkumis dan suka mengenakan pakaian warna hitam ini kepada Kapanlagi.Com.
Dikatakan lebih lanjut bahwa tabloid Radio yang kini edar juga bersifat padat karya. Pasalnya hampir semua lini, kru yang dipekerjakan bukan dari dunia jurnalistik sehingga semua kalangan dapat mengisi rubrik yang disediakan penerbit."Istilahnya saya menyebut learning by doing. Mereka sama sekali nggak tahu jurnalistik tapi disini mereka dapat belajar sekaligus mempraktekkannya," ucapnya.
Untuk hal ini Agus punya alasan sendiri."Saya mau mereka punya kemampuan agar mereka kaya dengan ilmu bukan secara materi. Saya nggak mampu jika diminta demikian. Mereka dari berbagai kalangan. Ada tukang parkir, tukang ojek, pelajar dan lainnya. Honor sih ada tapi disesuaikan dengan kontributornya," terang pria yang tengah menyelesaikan penulisan biografinya ini.
Rencananya tabloid Radio siap disebar ke semua jaringan radio seluruh tanah air. Bahkan Palembang, Manado, Medan dan Kalimantan telah menyatakan berlangganan. (kpl/opa)
Lihat Profil: Agus Dhukun
aduhhhh bos.,.,.,.! bisnisnya ada aja....
dasar penjahat seni,., he3x
saya penggemar berat adhu band loh... apa lagi drumernya , manis banget,.,., salam ya bos buat drumer adhu band