"Para menteri harus berikan win-win solution, jangan tidak adil. Saya rasa apa yang disampaikan Menteri Tenaga Kerja sudah bagus," kata Hartati pada konferensi pers di Jakarta, Senin.
Menurut Hartati, Menteri Tenaga Kerja sudah membuat pernyataan bahwa terminasi mendadak Nike kepada PT NASA dan PT HASI tidak sopan, dengan memutus order begitu saja.
"Saya ingin ada solusi, dan pemerintah jangan terlalu mengagung-agungkan investor asing. Karena dalam hal ini sebenarnya Nike hanya pembeli, sementara yang menjadi investornya sebenarnya saya," kata Hartati.
Hartati menyesalkan sikap beberapa menteri yang justru terus melobi agar karyawan mengejar "majikan" untuk meminta pesangon. Karena menurut dia, hal tersebut hanyalah pepesan kosong.
"Jelas saya tidak dapat membayar pesangon untuk 14.000 karyawan," katanya.
Karena itu, dia meminta agar pihak Nike mau memberikan waktu lebih lama kepada pihaknya agar dapat membayar pesangon.
Hartati meminta tambahan waktu untuk PT NASA 30 bulan dan untuk PT HASI 18 bulan untuk dapat menciptakan usaha baru sehingga dapat mengalihkan pegawai ke perusahaan baru.
Dia mengatakan sebagian pegawainya sudah ada yang mulai kerja ke pertanian, tetapi itu tidak banyak jumlahnya.
Untuk masalah pesangon, dia mengaku belum menghitung berapa total nilainya, tetapi dia memperkirakan dibutuhkan US$40 juta.
Hartati mengaku hanya dalam lima tahun pertama kerja sama pihaknya mendapatkan keuntungan, sementara di tahun keenam ke atas dia tidak mendapatkan keuntungan.
"Saya sudah rugi satu triliun dari dua perusahan. Butuh waktu lebih lama agar kerugian tidak bertambah dengan efisiensi," katanya. (*/rsd)