Wartawan olahraga Majeed Mohammed dan penulis/peneliti Mustafa Gaimayani tewas akibat ledakan itu merusak kantor Lembaga Media Hawal, kata ketuanya, Hashwan Dawoudinya.
Gaimayani memiliki paspor Swedia dan seluruh keluarganya tinggal di negara itu, tapi ia pindah ke Kirkuk sekitar lima bulan lalu untuk bergabung dengan lembaga tersebut, kata Dawoudi.
Hawal menerbitkan koran mingguan dari Kirkuk dalam bahasa Kurdi dan suratkabar kembarannya dalam bahasa Arab bernama "Al-Nabaa".
Tiga orang Irak bekerja untuk kantor berita Inggris Reuters tewas di Bagdad pekan lalu, begitu pula seorang wartawan Irak untuk harian Amerika Serikat New York Times.
Wartawan Tanpa Batas menyatakan sedikit-dikitnya 194 wartawan dan pembantu media tewas di Irak sejak serbuan pimpin Amerika Serikat tahun 2003, membuat tempat itu paling berbahaya di dunia untuk meliput.
Dua wartawan hilang dan 14 lagi tidak ada beritanya sejak diculik, kata pengamat media Wartawan Tanpa Batas, yang berpusat di Paris.
Sebagian besar dari mereka adalah orang Irak, yang dibunuh kelompok perlawanan atau pejuang, yang marah akibat liputan mereka atau secara ideologi bertentangan dengan majikan mereka. Yang lain terperangkap dalam baku-tembak di antara pihak bertikai.
Menurut angka sindikat pers Irak, sekitar 230 wartawan Irak tewas sejak serbuan Amerika Serikat atas Irak pada 2003.
Saat makin banyak media pindah ke negara tetangga dan Kurdi di utara, wartawan pribumi mereka ditinggalkan tanpa perlindungan apa pun dan pembunuhnya terus bergerak bebas, kata pernyataan Wartawan Tanpa Batas.
Seorang wartawan Irak bekerja pada suratkabar The New York Times di Bagdad ditembak mati akhir pekan lalu, kata kepala biro Bagdad suratkabar itu dalam pernyataannya.
Khalid W Hassan (23 tahun) ditembak mati ketika dalam perjalanan menuju tempat kerjanya di daerah permukiman Saidiyah, selatan ibukota Irak itu, kata John F Burns.
Khalid adalah wartawan kedua dibunuh di Bagdad dalam dua hari.
Pada hari sebelumnya, seorang jurufoto Irak dan sopirnya, yang bekerja di Reuters, tewas saat meliput baku-tembak antara pasukan Amerika Serikat dengan kelompok garis keras di daerah Amin, Bagdad.
Jurufoto Namir Noor Eideen (22 tahun) dan sopir Saeed Chmagh (40 tahun) tewas ketika mereka mengambil gambar sebuah bus kecil, yang dihantam peluru kendali atau roket, kata saksi.
Penyebab kematiannya tidak jelas. Saksi menyatakan terjadi ledakan di daerah itu, tapi polisi Irak menyatakan terjadi serangan udara dan mortir Amerika Serikat di wilayah tersebut.
Kantor berita Prancis AFP melaporkan bahwa keduanya tewas sesudah roket dan serpihannya menghantam bis kecil pembawa orang Irak cedera.
Saksi menyatakan helikopter Amerika Serikat menembakkan peluru kendali itu, tapi pernyataan Reuters menyebut ledakan itu juga bisa disebabkan oleh tembakan mortir pejuang.
Jurufoto AFP di tempat itu menyatakan tujuh warga juga tewas.
Kematian itu membuat jumlah karyawan Reuters tewas di Irak sejak Amerika Serikat memimpin serbuan ke Irak tahun 2003 untuk menumbangkan Presiden Saddam Hussein menjadi enam orang. (*/rsd)