Menurut dia, kalau-pun ada pembelian lahan di KIM pada tahun ini, hanya merupakan perluasan pabrikan masing-masing perusahaan industri keramik yang merupakan PMA Taiwan dan perusahaan pestisida Malaysia.
"Untuk di kawasan KIM II masih ada 40 hektare lagi lahan yang belum terjual, sementara 30 hektare lahan baru di KIM III juga belum ada peminatnya," katanya.
Bagian marketing perusahaan itu, Jefri Sirait menyebutkan, dari total lahan milik perusahaan itu di KIM I dan II seluas 540 hektare, yang sudah terjual sebanyak 500 hektare dengan jumlah perusahaan sebanyak 330 perusahaan.
Sisa lahan seluas 40 hektare itu belum juga terjual meski KIM menargetkan sudah bisa melepas lahan itu sejak tahun lalu sejalan dengan rencana perusahaan membuka KIM III seluas 300 hektare lagi.
"Dengan kondisi investor yang melakukan wait and see untuk berinvestasi di Sumut, KIM menjadi pesimis bisa mulai menjual lahan di KIM III yang ditargetkan mulai dipasarkan tahun ini sejalan dengan rencana perampungan pembebasan lahan keseluruhannya pada tahun 2008," katanya.
Pengurus DPD Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Sumut, Laksamana Adyaksa, mengatakan, pengusaha di Sumut dewasa ini mengalami dilemma dengan terjadinya krisis listrik dan gas yang berkepanjangan.
Mau hengkang, takut menanggung rugi dari investasi besar yang ditanamnya, sementara mau bertahan sangat sulit karena harus mengeluarkan investasi besar untuk menanggulangi krisis listrik dan gas di pabriknya.
"Dilema yang dialami pengusaha di Sumut dewasa ini menjadi ancaman investasi di provinsi itu pada masa yang akan datang. Investor dipastikan masih tetap ragu untuk investasi di Sumut," kata Jefri. (*/rsd)