< >

BMG: Waspadai Gelombang Pasang Tinggi

Kamis, 19 Juli 2007 14:03
Kapanlagi.com - Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) mengingatkan bahwa gelombang laut di sejumlah perairan Indonesia cukup tinggi dampak kencangnya kecepatan angin akibat perbedaan tekanan di wilayah Australia dan Samudera Hindia, sehingga perlu diwaspadai.

Kepala Seksi Observasi dan Informasi BMG Maritim Tanjung perak Surabaya, Arif Triyono, di Surabaya, Kamis, menjelaskan, saat ini terjadi perbedaan tekanan udara di Barat Australia (1023 milibar) dan di Samudra Hindia (1006 milibar)

Ia menilai, perbedaan itu relatif besar hingga berpengaruh terhadap kecepatan angin yang bertiup dari Timur dan Tenggara cukup kencang. Dampaknya, gelombang laut pun cukup tinggi.

Karena itu, pelayaran yang menuju Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Timor, Flores serta Papua Selatan, perlu waspada terhadap kemungkinan adanya gelombang tinggi di Laut Jawa.

Di Laut Jawa tinggi gelombang pada 19-23 Juli diperkirakan setinggi 2-3,5 meter, di Samudera Hindia pada 19-20 Juli sekitar 2-3,5 m. Bahkan, pada 21-23 Juli tinggi gelombang di Samudera Hindia meningkat hingga 3-5 meter.

Wilayah perairan Laut Flores dalam lima hari kedepan tinggi gelombang diperkirakan mencapai 3-4 meter, di wilayah Timur mulai dari Laut Banda, Arafuru, Aru hingga Laut Buru pada 19-23 Juli tinggi gelombang juga tinggi, berkisar 3-5 meter, sedangkan Laut Halmahera, Timor dan Laut Sawu gelombang berkisar 2-3,5 meter.

Wilayah pesisir Selatan Jatim pada 19-21 Juli tinggi gelombang sekitar 0,5-1,5 meter. Tinggi gelombang itu akan meninggi pada 22-23 Juli yakni antara 1-2,5 meter. Sedangkan di wilayah pantai Utara Tuban hingga Pasuruan 0,5-1,3 meter dan di pesisir Pasuruan hingga pesisir utara Banyuwangi gelombang berkisar 1-2,5 meter.

Perairan di penyeberangan Ujung- Kamal gelombang mencapai 0,2-0,6 meter, penyeberangan Ketapang-Gilimanuk berkisar 0,5-1,5 meter dan di penyeberangan Bali-Lombok mencapai 1-2 meter.

Perairan Masalembu, Kangean dan Bawean gelombang juga tinggi, berkisar 2-3,5 meter hingga 23 Juli mendatang, karenanya harus diwaspadai.

Menurut Arif Triyono, peluang hujan di wilayah perairan sangat kecil. Tapi, kemarau basah menyebabkan masih dimungkinkannya terjadi hujan di musim kemarau. Penyebabnya, adanya fenomena la-nina, yang sedang melanda wilayah Indonesia terutama Indonesia Timur dan Indonesia Tengah.

Fenomena la-nina terjadi karena perbedaan suhu muka laut, antara Samudera Pasifik di dekat Indonesia yang dingin dengan suhu 26 derajat celcius dengan Samudera Pasifik yang hangat dengan suhu 29-30 derajat celcius di dekat Amerika Tengah.

Uap air terbawa ke Indonesia hingga terjadi hujan. Namun hujan yang mungkin terjadi hanya intensitas ringan dan sedang. Hujan dengan intensitas sedang diperkirakan terjadi di utara equator yakni wilayah Sulawesi dan Maluku, katanya.

Pada kesempatan terpisah, Prakirawan BMG Juanda, Syamsul Arifin, mengemukakan, jalur penerbangan Surabaya-Batam dan Surabaya-Balikpapan perlu diwaspadai, sebab diatas Pulau Bangka dan Balikpapan ada gumpalan awan konvektif.

Sedangkan cuaca di Bandara Juanda sore hingga malam hari diperkirakan kondusif. Tidak ada cuaca yang ekstrem, hanya cerah berawan. Jarak pandang antara 3-11 kilometer, suhu 25-33 derajat Celcius dan angin dari arah Timur berkecepatan 5-50 kilometer per jam. (*/rit)