"Tidak ada yang namanya show of force dalam latihan itu. Latihan itu tidak menggunakan letusan senjata sama sekali, sehingga tidak ada alasan warga takut," kata Kadispen Koarmatim, Letkol Laut (KH) Toni Syaiful di Surabaya, Kamis.
Sebelumnya warga Alastlogo yang empat warganya tewas terkena tembakan Marinir beberapa waktu lalu resah setelah mendapatkan pemberitahuan rencana latihan TNI AL tersebut. Warga mengaku masih trauma dengan kasus penembakan oleh Marinir.
Menurut Kadispen, semua jenis latihan untuk 2007 sudah disusun 2006 lalu sehingga tidak ada kaitan sama sekali dengan insiden penembakan yang diduga dilakukan oleh 13 Marinir anggota Detasemen Puslatpur Grati akhir Mei lalu.
"Kami juga membuktikan bahwa latihan itu sama sekali tidak mengganggu warga karena tempatnya di daerah terisolir. Itu latihan untuk bertahan hidup. Kalau latihannya di dekat warung, nanti prajurit kita bisa ngopi dan makan. namanya bukan latihan," katanya.
Dikatakannya, latihan lapangan yang melibatkan 60 pilot dan kru itu dimulai Rabu (18/7) dan akan berakhir Jumat (20/7). Sebelumnya mereka juga berlatih teori di markas Pangkalan Udara TNI AL (Lanudal) Juanda.
Sebelumnya Komandan Pusnerbal, Laksma TNI Soemartono mengemukakan bahwa latihan bersandi "Sea And Jungle Survival" yang dipimpin oleh Mayor Laut (P) Hari Armanto itu merupakan praktek bertahan hidup di laut dan darat, khususnya di hutan.
"Misalnya kalau pesawat jatuh di laut atau hutan, mereka dapat mengatasi dan dapat bertahan hidup lewat teknik survival itu," tutur laksamana berbintang satu itu.
Berkaitan dengan latihan tersebut, para peserta bermalam di atas perahu karet. Mereka dilatih mengatasi masalah di laut jika terpaksa pesawat yang diawaki mengalami deaching (mendarat darurat di laut) atau di hutan.
Selain dari Lanudal Juanda, latihan itu juga diikuti peserta dari Wing Udara Koarmatim dan prajurit dari fasilitas pemeliharaan dan perbaikan (Fasharkan) pesawat, dengan melibatkan sejumlah pesawat udara. (*/cax)