"Penayangan film yang disutradarai Michael James Rowland itu dimaksudkan untuk mendukung kegiatan amal NTA, sebuah kelompok kemanusiaan Australia yang terlibat aktif dalam membantu pemberdayaan masyarakat di kawasan Indonesia Timur," kata Juru Bicara KBRI Canberra, Dino Kusnadi di Canberra.
"Film ini berhasil memparodikan isu sensitif imigran ilegal dengan sangat baik," tambahnya.
LUCKY MILES yang berdurasi 105 menit ini mengangkat tema perjalanan nasib sekelompok imigran Irak dan Kamboja yang terdampar di pantai Australia Barat setelah ditinggal sebuah perahu nelayan Indonesia di suatu tempat yang dekat dengan jalan menuju Perth.
Sebagian besar imigran itu berhasil diamankan saat mereka mencari sebuah pemberhentian bus namun ada tiga orang yang berhasil lolos, yakni seorang Irak, seorang Kamboja, dan seorang Indonesia. Dari sinilah komedi LUCKY MILES berlanjut.
Paul Byrnes dalam ulasannya terhadap film komedi ini di Suratkabar Sydney Morning Herald yang terbit pada 14 Juli lalu mengatakan, buat sebuah negara yang didirikan oleh para 'manusia perahu', rakyat Australia justru tidak menunjukkan banyak antusiasme terhadap film-film tentang para migran.
"Hanya ada sejumlah tulisan feature dalam 40 tahun terakhir tentang kisah-kisah mereka (para migran) walaupun itu mungkin berubah," katanya. (*/boo)