< >

Indonesia Alami Krisis Pilot

Senin, 23 Juli 2007 19:43
Kapanlagi.com - Meski Indonesia dilaporkan pertumbuhan penumpang domestiknya di atas 20% per tahun, ternyata bersamaan dengan itu ternyata mengalami krisis sumber daya manusia (SDM), khususnya tenaga pilot karena lembaga penyedianya hanya satu, sementara permintaan cukup tinggi.

"Ya, di Indonesia itu permintaan pilot cukup tinggi, sementara lembaga penyedianya hanya satu yakni Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia (STPI) di Curuq, Tangerang, Banten," kata Menteri Perhubungan Jusman Syafii Djamal menjawab pers di sela Kunjungan Kerjanya ke STPI di Tangerang, Senin.

Menteri Jusman memberikan contoh, STPI menerima pesanan pilot dari sejumlah maskapai dan sekolah penerbangan dalam dan luar negeri hingga Juni 2007 sudah mencapai 535 pilot, sementara kemampuan STPI sendiri pada akhir tahun ini hanya 45 orang.

Pesanan 535 pilot tersebut antara lain berasal dari PT Garuda Indonesia (60), Lion Air (25), Merpati (25), Sky Train (120), Individual (20), Global Wing Malaysia (250) dan Idea Flying School (80).

Oleh karena itu, tegas Jusman, banyak permintaan agar kapasitas STPI ditingkatkannya kemampuannya memproduksi SDM Pilot, disamping lainnya seperti teknisi dan pengatur lalu lintas udara.

"Apalagi, kita tahu banyak alumni STPI yang handal dan siap membantu," katanya.

Jusman menyatakan, berdasarkan laporan kesiapan STPI, mereka mulai akhir tahun ini mempunyai program percepatan dan peningkatan produksi pilot menjadi 120 orang per tahun. "Mulai akhir 2009, STPI sudah mampu memproduksi 120 pilot per tahun. Untuk tahun ini masih 45 orang dan 2008 hanya 35 orang," katanya.

Menteri Jusman juga mengungkapkan kemungkinan pihaknya mengalokasikan dana tambahan dari APBN Perubahan 2007 kepada STPI. "Berapa jumlahnya saya belum tahu. Masih akan dikaji," katanya.

Sementara itu, Direktur Operasi Garuda, Capt. Ari Sapari mengakui, pihaknya sangat membutuhkan pasokan pilot baru hingga 2010 sebanyak 295 pilot. Rinciannya pada 2006 sebanyak 40 pilot, 2007 (70), 2008 (111), 2009 (54) dan 2010 (20).

Namun, Ari menegaskan, kebutuhan pilot sebanyak itu pesimis mampu dipenuhi STPI karena pada 2006 saja dari 40 pilot yang ditarget hanya dapat 13 orang dan pada 2007 mendapat jatah lulusan pilot sebanyak 11 orang sehingga total menjadi 24 pilot.

Ari juga mengatakan, pihaknya ketika menerima lulusan STPI tidak bisa langsung memberdayakannya karena mereka hanya mengantongi 180 jam pesawat latih, sedangkan Garuda mengoperasikan armada seluruhnya jet.

"Karena itu, kami harus meng-up grade-nya lagi dengan kemampuan mesin jet dan type rating selama 6-8 bulan dengan biaya sekitar US$25-30 ribu per orang," katanya.

Kebutuhan pilot Garuda yang sangat mendesak itu, kata Ari, juga dipicu oleh hengkangnya sejumlah pilot dan co pilot Garuda dalam beberapa tahun terakhir. "Kami sudah berusaha mencari di luar STPI, tetapi juga kesulitan," kata Ari.

Data pilot di seluruh Indonesia menurut STPI tercatat sebanyak 6.200 orang. Dari jumlah ini, 125 orang sudah dicabut ijinnya (lost of licensem) dan 1000 orang lainnya tersebar di berbagai perusahaan penerbangan, termasuk perusahaan minyak dan tambang.

"Data kami, dari 6.200 orang itu yang aktif saat ini hanya 4.675 pilot," kata Kabag Administrasi akademis dan Ketaruanaan STPI, Wisnu Daryono saat memberikan paparan di depan Menhub Jusman Syafii Djamal. Kesulitan Avgas

Sementara itu, Wisnu Daryono juga mengungkapkan, para taruna STPI dalam dua bulan terakhir sudah tidak latihan terbang lagi karena kosongnya pasokan bahan bakar pesawat latih berupa avgas.

"Pasokan avgas dari Pertamina dalam dua bulan terakhir kosong. Kami tak pernah latihan terbang lagi," katanya.

Oleh karena itu, dirinya mengusulkan agar pemerintah berani mengambil keputusan untuk pengadaan alat tertentu sehingga memungkinkan pesawat latih berbagai jenis yang dimiliki STPI selama ini bisa menggunakan bahan bakar avtur.

"Bahan bakar avtur 30 % lebih murah ketimbang avgas karena harga per liternya saat ini Rp6000 sedangkan avgas mencapai Rp17.100 per liter," katanya.

Karena itu, ada kesan dari kondisi saat ini, biaya sekolah di STPI sangat mahal. "Untuk seorang pilot dengan 180 jam terbang hingga lulus memerlukan sedikitnya 24-25 ribu dolar AS," katanya.

Selain itu, Wisnu melaporkan, kondisi sarana dan prasarana di STPI sangat terbatas, misalnya di Bandara Budiarto alat navigasinya sangat minimal sehingga hanya bisa untuk latihan siang hari (visual) dan tidak bisa malam hari. (*/rsd)