Pemerintah Harus Cepat Patenkan Batik Sebagai Warisan Dunia
Kapanlagi.com - Pemerintah Indonesia didesak untuk segera mempercepat langkah mematenkan Batik Indonesia ke UNESCO (United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization) sebagai warisan dunia agar tidak didahului negara lain yang juga ekspansif mengembangkan batik. "Kita berlomba-lomba dengan Malaysia yang juga ingin memasukkan Batik Malaysia sebagai warisan dunia," ujar salah satu Pengurus Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI) Sasmiyarsi Sasmoyo di Jakarta, Selasa, pada jumpa pers mengenai Festival Batik Nusantara di Solo 28-29 Juli 2007. Ia mengatakan saat ini berbagai negara juga sudah ekspansif mengembangkan batik yang cikal bakalnya berasal dari Indonesia. Sejumlah negara tersebut antara lain Malaysia, Jepang, dan Afrika Selatan. "Kita harus secepatnya mengupayakan Batik Indonesia sebagai warisan dunia, agar tidak menelan kekecewaan yang lebih dalam," ujar Sasmiyarsi yang juga Ketua Festival Batik Nusantara. Diakuinya, meskipun negara lain mengembangkan batik, namun Indonesia memiliki teknik membatik yang dimiliki Indonesia sangat berbeda dengan negara lain dan batik di Indonesia juga dipakai untuk acara-acara ritual adat. Kendati batik dipakai untuk ritual adat dan mengandung makna tertentu pada setiap corak dan motif batik, namun Sasmiyarsi termasuk yang tidak setuju batik juga diproduksi massal lewat mesin cetak, industri tekstil. "Kalau kita ingin membuat batik secara populis, maka saya termasuk orang yang tidak keberatan adanya batik printing dan cap, karena batik tulis mahal. Bagaimana misalnya seragam anak SD yang menggunakan batik, misalnya harus memakai batik tulis. Mereka tidak akan sanggup membelinya, selain itu berapa lama batik tulis itu harus dibuat untuk memenuhi seragam yang demikian banyak," ujarnya. Menanggapi mengenai paten ke UNESCO, Direktur Industri Kecil dan Menengah (IKM) Sandang Deperin, Yusran, mengatakan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata (Depbudpar) yang memiliki kewenangan untuk mendorong masuknya Batik Indonesia sebagai warisan dunia oleh UNESCO. "Perorangan atau LSM tidak diperkenankan melakukan hal itu," katanya. Festival Batik Sementara itu, Sasmiyarsi mengatakan pihaknya mengharapkan pada Festival Batik Nusantara di Solo akan diikuti oleh sekitar 300 peserta baik dari kalangan pengusaha dan perajin batik di Jawa, maupun di luar Jawa seperti Kalimantan Timur, Lampung, dan lain-lain. "Kami berharap pada festival batik tersebut, motif dan corak batik yang dikembangkan dan dipamerkan bisa didaftarkan HaKInya (Hak atas Kekayaan Intelektual), tidak hanya ratusan targetnya, tapi juga ribuan motif batik kita harapkan bisa didaftarkan hak ciptanya mengingat ribuan motif batik terus berkembang di Indonesia," ujarnya. (*/rsd) |