< >

Produk Bahan Bakar AS Naik, Harga Minyak Tergelincir

Rabu, 25 Juli 2007 11:47
Kapanlagi.com - Harga minyak tergelincir selam empat hari berturut-turut sampai Rabu karena produksi industri penyulingan di AS yang diperkirakan meningkat sehingga mengurangi kekhawatiran atas pasokan bahan bakar selama liburan musim panas.

Harga minyak Laut Utara Brent di London tergelincir 41 sen menjadi US$74,67 per barel pada 0245 GMT, setelah Selasa anjlok US$1,78. Harga minyak jenis ringan di AS untuk pengiriman September juga lebih rendah 39 sen menjadi US$73,17.

Cadangan bensin di AS diperkirakan naik 400.000 barel pekan lalu karena produksi industri penyulingan meningkat tajam, meskipun permintaan musim panas menguat sehingga membatasi potensi penambahan dalam jumlah besar, menurut survey reuters kepada para analis.

"Pulihnya kembali beberapa industri penyulingan di AS dari peremajaan menjadi elemen penguatan," kata Harry Tchilinguirian, analis minyak dari BNP Paribas. "Ketika data impor bensin AS terlihat tetap melemah, produksi industri penyulingan lebih besar dan beberapa pencampuran akan mengangkat pasokan dalma negeri."

Menurut data pemerintah yang akan dikeluarkan Rabu ini, cadangan minyak mentah AS nampaknya turun 1,2 juta barel pekan lalu, anjlok untuk tiga pekan berturut-turut , namun ini masih meninggalkan cadangan sekitar 5% di atas level tahun ini.

Pasar minyak Brent turun dari level tertinggi selama 11 bulan terakhir senilai US$77 pada pekan lalu dan berhenti ham,pir dua bulan lamanya karena spekulasi beli dan kekhawatiran mengenai pasokan bensin pada musim panas, namun OPEC menolak untuk meningkatkan produksi minyaknya.

Produsen minyak terbesar kedua di OPEC, Iran, Selasa, mengatakan organisasi ini, yang tahun lalu telah setuju memangkas produksi karena anjloknya harga, akan meningkatkan p[roduksi jika perlu.

Pernyataan itu mengikuti ol3eh Presiden OPEC Mohammed al-Hamli yang Minggu sebelumnya mengatakan OPEC khawatir t9ingginya harga minyak yang berpotensi melukai perekonomian dunia.

Produksi dari negara non-OPEC, Rusia, untuk sebagian besar tidak mengalami perubahan sampai 2020, menurut kementerian perekonomiannya, Selasa.

Kementerian itu mengatakan produksi minyak Rusia, terbesar kedua di dunia setelah Arab Saudi, akan berada pada kisaran 10,6 juta barel per hari antara 2015 dan 2020. (*/rit)