Dari pemantauan Kamis dini hari, terlihat seekor anjing pelacak yang dikawal dua polisi, mengendus bagasi setiap bus dan kendaraan lain yang baru turun dari kapal penyeberangan lintas Ketapang-Gilimanuk.
Setelah "lolos" dari endusan anjing pelacak, yakni tidak ditemukan benda mencurigakan, baru petugas keamanan memperbolehkan bus-bus malam dan kendaraan lainnya melanjutkan perjalanan menuju Denpasar atau daerah lain di Bali.
Polda Bali bersama jajaran terkait, meningkatkan keamanan Pulau Dewata menyusul peringatan dari Australia, yang mengabarkan akan adanya aksi terorisme lagi di Indonesia, termasuk di pulau wisata internasional ini.
Penjagaan di gerbang barat Bali dari arah Pulau Jawa melalui sarana kapal ASDP (Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan) itu juga melibatkan anggota TNI, petugas Satpol PP dan aparat sipil pemeriksa KTP (kartu tanda penduduk).
Setiap penumpang bus dan kendaraan lainnya, diwajibkan melalui pintu pemeriksaan KTP. Mereka yang lolos bisa langsung kembali ke kendaraan masing-masing. Sedangkan yang KTP-nya bermasalah harus melalui pemeriksaan lanjutan di ruangan khusus.
Dua orang yang berada di dalam ruangan berkaca, meneliti KTP setiap pendatang, terutama memperhatikan masa berlakunya. Hanya saja petugas sipil ini tidak selalu memperhatikan foto KTP dengan wajah pemiliknya.
Oleh karena itu cara pemeriksaan tersebut masih memungkinkan pendatang menyodorkan KTP yang bukan miliknya, hingga bisa lolos masuk Bali.
Dua orang petugas pemeriksa KTP itu tampaknya cukup kewalahan melaksanakan tugasnya, karena setiap saat harus meneliti KTP ratusan penumpang bus dan kendaraan lainnya.
Banyaknya pendatang yang harus diperiksa KTP-nya itulah tampaknya yang membuat petugas meneliti KTP secara sekilas saja, terutama memperhatikan masa berlakunya. (*/cax)