Camat Sampanahan, Iderus, ketika dihubungi Kamis mengatakan, kondisi tambah parah terjadi pada permukiman yang berada di kawasan bantaran sungai Sampanahan yang seolah tampak seperti lautan.
Air mulai naik sejak Minggu(22/7) dan terus bertambah, hingga merendam dan menenggelamkan rumah warga dan kebub pisang.
Sejak lima hari belakangan aktivitas warga mulai terganggu banjir yang tidak menunjukan tanda-tanda surut.
Warga terpaksa menggunakan jukung atau sejenis pertahu kecil untuk alat transportasi, karena seluruh jalan desa tenggelam. Menurut Camat Iderus, warga tidak bisa beraktifitas dari pekerjaan sehari-hari mereka sebagai nelayan, berladang dan berkebun. Banjir yang merendam 350 rumah warga itu mengakibatkan 1,4 juta jiwa warga hanya dapat menunggu air surut, sambil membersihkan rumah bekas lumpur dan sampah akibat banjir. Banjir bersamaan tingginya curah hujan sepekan terakhir membuat sungai Sampanahan meluap. Sementara itu, tampak beberapa warga mulai mengungsi di rumah warga yang lain, terutama yang rumahnya panggung dan tidak terencdam. Untuk membantu para korban banjir, pihak kecamatan mulai membuka posko kesehatan di penginapan Yanti.
Beberapa petugas kesehatan telah memberikan pengobatan kepada masyarakat yang menderita sakit. Menurut Iderus, hingga hari keempat warganya tidak ada yang melaporkan bahwa ada warga lain yang menderita gatal-gatal atau diare. Kadang-kadang saja ada warga sakit, dan sakitnya paling pilek dan masuk angin, Kemudian untuk air bersih kami rasa masih cukup, belum ada yang melapor kekurangan air bersih. (*/cax)