< >

Setiap Menit Satu Orang Indonesia Alami Kebutaan

Kamis, 26 Juli 2007 19:39
Kapanlagi.com - Direktur Pelayanan Medik Spesialistik Depkes RI, Ny. Ratna Rosita mengatakan prevalensi kebutaan di Indonesia cukup tinggi bahkan WHO memperkirakan setiap menit ada satu orang di negeri ini mengalami kebutaan.

"Prevalensi kebutaan di Indonesia masih tinggi dengan penyebab utamanya buta katarak, glaukoma dan kelainan refraksi. Sebagian besar kebutaan berada di daerah miskin dengan kondisi sosial ekonomi yang lemah," kata Ratna Rosita pada peresmian "Cicendo - IAPB-Zeiss Ophtalmic Program Training Center" di RS Mata Cicendo Kota Bandung, Kamis (25/07).

Perkirakan WHO, kata Ratna, jumlah orang buta di seluruh dunia saat ini 45 juta penderita, dan sepertiganya berada di Asia Tenggara. WHO juga memperkirakan 12 orang menjadi buta setiap menit di dunia, dan empat orang diantaranya berasal dari Asia Tenggara.

Berdasarkan hasil survei Indera Penglihatan dan Pendengaran tahun 1993-1996 yang dilakukan di delapan provinsi menunjukkan prevalensi kebutaan di Indonesia sebesar 1,5% dengan penyebabnya katarak 0,78%, glaukoma 0,20% dan kelainan refraksi 0,14%.

Menurut dia, dibandingkan dengan angka kebutaan negara-negara regional Asia Tenggara, kebutaan di Indonesia masih tertinggi dibandingkan Bangladesh 1%, India 0,7%, Thailand 0,3%.

Kecenderungan itu, kata Rosita berlangsung hingga saat ini. Insiden katarak 0,1% atau 210 ribu orang per tahun, sedangkan yang dioperasi baru 80.000 orang per tahun.

"Akibatnya terjadi penumpukan penderita katarak yang cukup tinggi," katanya.

Hal itu disebabkan oleh daya jangkau pelayanan operasi yang masih rendah, kurangnya pengetahuan masyarakat, tingginya biaya operasi, ketersediaan tenaga dan fasilitas kesehatan mata yang masih terbatas.

"Menurut ketentuan WHO, kebutaan yang tinggi di atas 1% tidak lagi menjadi masalah kesehatan masyarakat saja, melainkan telah menjadi masalah sosial yang harus ditangani secara lintas program dan lintas sektor," katanya.

Salah satu upaya yang dilakukan antara lain WHO bekerjasama dengan International Agency for Prevention of Blindnes (IAPB) mencanangkan inisiatif global untuk menanggulangan masalah kesehatan mata dan kebutaan dengan program Vision 2020 - The Right to Sight.

"Tujuannya menurunkan kebutaan yang dapat dicegah menjadi 0,5% pada 2020," ucapnya.

Tingginya prevalensi kebutaan di Indonesia juga menjadi salah satu perhatian dari IAPB untuk membantu dengan program peningkatan teknologi dan kemampuan dokter mata.

"IAPB konsen dengan masalah kebutaan yang tinggi di sini, sehingga salah satu program tahun ini difokuskan di Indonesia. Selain peningkatan kemampuan profesionalitas tenaga medis, juga meningkatkan kesadaran masyarakatnya terhadap kesehatan mata," kata Presiden IAPB, Dr. Gulapali N Rao.

Sementara itu Direktur RS Mata Cicendo, Ny. Farida Sirlan mengatakan, saat ini 25% dari total masyarakat Indonesia mengalami gangguan kesehatan mata sehingga harus menggunakan kacamata.

"Namun dari jumlah itu, baru seperdelapannya saja yang sudah menggunakan kacamata itu," kata Farida. (*/lpk)