Libur sekolah terhadap murid SD tersebut hingga waktu belum ditentukan, kata Kepala Pendidikan Nasional Sulut, Jauhari Kansil, kepada wartawan, Kamis (25/07), disela-sela kunjungan disejumlah lokasi bencana itu di Mitra.
Menurut Kansil, kebijakan tersebut diambil mengingat ada sekitar enam sekolah di Mitra, dan satu sekolah di Minahasa mengalami kerusakan berat akibat tertimbun tanah longsor dan tergenang banjir.
Kondisi itu membuat proses belajar mengajar disejumlah sekolah SD tidak dapat dilakukan, sehingga ratusan murid diliburkan hingga waktu belum ditentukan sambil menunggu perkembangan lebih lanjut.
Ketujuh sekolah mengalami kerusakan, antara lain SD Negeri 2 Belang, SD Negeri Wioy, SD Negeri Tasuraya, SD Negeri Tetengesan, dan SD Negeri Wailan, Kakas Minahasa.
Selain rusaknya tujuh gedung sekolah, bencana alam tersebut juga merusak sejumlah infrastruktur dan perumahan penduduk, antara lain dua jembatan putus, satu jalan putus, sembilan unit tanggul bobol, 500 hektar sawah rusak berat serta 98 rumah warga rusak parah Tanah longsor dan banjir tersebut mengakibatkan tiga orang tewas, dua hilang serta delapan dinyatakan kritis.
Korban tewas terdapat di Desa Walian, Kecamatan kakas, Kabupaten Minahasa itu, terdiri dari Natalia Mongkol (7), Youna Karaseran (37), Meidy Lukoy, sementara korban hilang di Desa Wioi Kabupaten Minahasa Tenggara, yakni Bobby Sekeon (30) dan Usman.
Sedangkan korban luka-luka berat terdapat di Desa Walian, yakni Jan Tamu, Relly Mongkol, Roy Mongkol, Jemmy Manoppo, Mercy Lukow, Ritha Nangoy, kemudian di Desa Wolaang, adalah M Lumintang dan Novry Monangin. (*/lpk)