"Ini memang patut disayangkan," kata pengamat dunia usaha dari Enciety Business Consult, Kresnayana Yahya, dalam dialog bertajuk "Pengembangan Pasar Uni Eropa", di Surabaya, Jumat.
Program pelatihan secara cuma-cuma telah banyak ditawarkan untuk kalangan pelaku usaha, seperti Inwent Jerman yang memberikan pelatihan kepada kalangan importir dan Uni Eropa untuk eksportir di Jatim.
Namun, lanjutnya, kesempatan itu belum banyak dimanfaatkan pelaku usaha. "Tampaknya mereka berpikir, begini saja sudah jalan, kenapa harus repot-repot mengikuti pelatihan," ujarnya.
Menurut staf pengajar Institut Teknologi 10 Nopember Surabaya (ITS) itu, mengikuti pelatihan sangat penting guna mengetahui perkembangan sistem perdagangan global.
Dengan demikian, pelaku usaha dapat memperoleh informasi terbaru mengenai sistem perdagangan yang berlaku di negara-negara lain dan langkah antisipasi yang perlu disiapkan.
Ketua Gabungan Importir Nasional Seluruh Indonesia (GINSI) Jatim, Bambang Trisulo, mengakui bahwa GINSI Jatim sudah beberapa waktu terakhir menjalin kerja sama pelatihan dengan Inwent Jerman untuk memberikan tambahan kemampuan instruktur pelatihan (trainer) di perusahaan importir di Jatim.
Dalam setiap pelatihan ditargetkan 30 peserta. Peserta tidak hanya memperoleh teori, tetapi juga diajak dialog serta membuat kertas kerja. Bahkan, jika memungkinkan peserta diajak studi banding ke Jerman.
Sementara itu, Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) Jatim, kini juga telah menjalin kerja sama dengan Uni Eropa untuk menyelenggarakan pelatihan-pelatihan bagi kalangan eksportir di Jatim.
Format pelatihan tidak hanya berupa seminar, tetapi juga workshop dan kegiatan lain yang mendukung peningkatan SDM.
"Tapi, untuk mendapatkan 30 peserta setiap kali pelatihan, cukup sulit, meskipun mereka tidak dipungut biaya apapun," paparnya. (*/rit)