Deputi Operasi BP Migas, Dody Hidayat saat dihubungi wartawan di Jakarta, Jumat mengatakan, pengembangan setiap lapangan baik gas ataupun minyak tersebut memang tergantung keekonomiannya.
"Namun, kami tetap optimis lapangan akan dikembangkan, karena gas sedang dibutuhkan saat ini. Jadi, meski kandungan CO2 tinggi, kalau memang ekonomis, tentu akan dikembangkan," katanya.
Apalagi, lanjutnya, kini teknologi yang memisahkan CO2 sudah lebih maju, sehingga kemungkinan pengembangan lapangan tersebut semakin besar.
Sebelumnya, Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro mengatakan, kandungan CO2 Lapangan Jambaran mencapai 45%.
Menurut Dody, kadar karbon tersebut relatif tinggi dibandingkan normal hanya 0-5%.
"Namun, kandungan CO2 yang besar ada di sejumlah lapangan lainnya seperti di Sumatera," katanya.
Ia mengatakan, tingginya kandungan CO2 mengakibatkan biaya produksi gas Blok Cepu menjadi lebih mahal.
Mengenai kemungkinan digunakan bagi kebutuhan gas di Pulau Jawa, Dody mengatakan, hal tersebut juga tergantung keekonomiannya.
Purnomo pernah mengatakan gas dari Blok Cepu akan dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan gas di Jawa.
Lapangan Jambaran termasuk Blok Cepu yang dimiliki secara bersama oleh ExxonMobil Oil Indonesia dan PT Pertamina (Persero) melalui Komite Operasi Bersama.
Selain Jambaran yang diperkirakan memiliki cadangan gas 1,3 triliun kaki kubik, dalam Blok Cepu juga terdapat Lapangan Banyuurip yang mengandung minyak cukup besar.
Produksi minyak Banyuurip ditargetkan pada akhir 2008 dengan tingkat 10.000 barel per hari dan akan meningkat menjadi 160.000 barel per hari pada 2010. (*/rsd)