Makanan Berformalin Kembali Marak, Ibu-Ibu Khawatir
Kapanlagi.com - Kaum ibu rumah tangga di Denpasar, Bali, khawatir putra-putrinya dalam jangka panjang menderita penyakit akibat mengonsumsi berbagai jenis makanan impor dalam kemasan yang mengadung formalin.Oleh karena itu sejumlah ibu rumah tangga yang dihubungi ANTARA di Denpasar, Sabtu (28/07), berharap pemerintah lebih sering melakukan pemeriksaan laboratorium terhadap berbagai jenis makanan dalam kemasan keluaran pabrik, setelah belakangan diketahui ada yang mengandung formalin. "Pemerintah seharusnya lebih sering berinisiatif memeriksa berbagai jenis makanan dalam kemasan yang beredar di pasaran, jangan sekedar menunggu jatuhnya korban," imbau Ni Wayan Suartini, warga salah satu perumahan di Denpasar. Ibu dua anak ini merasa khawatir setelah membaca berita media massa setempat yang melaporkan temuan permen impor dari China mengandung formalin dan produk pasta gigi yang justru bisa merusak gigi jika digunakan terus-menerus. Kekhawatiran serupa dilontarkan Wayan Suji, seorang PNS di Denpasar, seiring temuan banyak penderita kanker dan penyakit jenis lainnya yang masih sulit dideteksi petugas medis, diduga akibat mengonsumsi makanan dalam kemasan produk pabrik yang mengandung beracun. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) setempat dalam pemeriksaan beberapa jenis makanan, menemukan satu jenis permen impor dari China diketahui mengandung formalin dan mata dagangan itu tampaknya masih beredar di Denpasar. Berdasarkan laporan Bank Indonesia Denpasar, Bali dalam beberapa tahun terakhir kebanjiran makanan dalam kemasan dan minuman dari berbagai negara, ditandai peningkatan pengeluaran devisa untuk impor itu. Laporan Statistik Ekonomi Keuangan Bali menyebutkan, dalam catur wulan I-2007 saja devisa yang harus dikeluarkan untuk membeli berbagai jenis makanan dan minuman impor sebesar 3,1 juta dolar AS atau setara dengan sekitar Rp28,1 miliar. Impor berbagai jenis makanan dan minuman itu belakangan terus meningkat, bahkan selama 2006 saja saat ekonomi Bali masih terpuruk, devisa yang dikeruk untuk membeli berbagai jenis makanan sudah bernilai 8,1 juta dolar AS. Angka impor itu jauh lebih besar jika dibandingkan tahun 2004 yang baru tercatat 791 ribu dolar AS, kemudian melonjak menjadi tujuh juta dolar AS (2005), dan tahun 2007 dikhawatirkan bertambah besar lagi. Kalangan ibu-ibu rumah tangga berharap pemerintah bertindak tegas, dengan menarik berbagai jenis produk makanan dan minuman produk pabrik yang diketahui mengandung formalin atau zat kimia berbahaya lainnya. (*/rit) |