Industri Batik Indonesia Dihadapkan Tantangan Besar
Kapanlagi.com - Industri batik Indonesia mempunyai potensi besar, tetapi juga harus disadari dalam era globalisasi ini berbagai permasalahan dan tantangan telah menghadangnya.Menteri Perindustrian Fahmi Idris mengatakan hal itu dalam sambutan tertulis yang dibacakan oleh Dirjen Industri Kecil Menengah (IKM), M.Sakri Widiyanto pada pembukaan `Seminar Batik` pada Festival Batik Nusantara di Solo, Sabtu. Ia mengatakan, tantangan yang dihadapi industri batik itu antara lain mengenai sumber daya manusia (SDM), di mana generasi pembatik umumnya sudah berusia relatif lanjut, sehingga perlu upaya khusus untuk menggugah minat kalangan muda untuk terjun ke usaha batik. Dikatakannya, dari sisi teknologi, para industri batik umumnya belum melakukan perbaikan sistem dan teknik produksi agar lebih produktif dan mutunya bisa sama untuk setiap lembar kain batik, selain pemakaian zat warna alam masih belum mendapat hasil yang stabil satu sama lain. Dilihat dari sisi ketersediaan bahan baku sutera, menurut menteri, jumlahnya masih kurang dari permintaan pasar, selain itu serat dan benang sutera umumnya masih impor. Ia mengatakan, dari sisi pemasaran, adalah tantangan dari negara pesaing yang semakin meluas antara lain dari Malaysia, Thailand, Singapura, Vietnam, Afrika Selatan dan Polandia. Segi pemasaran batik Indonesia juga belum fokus untuk mengangkat batik Indonesia sebagai `high fashion dunia`. Menyinggung masalah hak kekayaan intelektual (HKI), ia mengatakan mengenai motif-motif batik tradisional, belakangan ini banyak ditiru oleh para perajin dari negara-negara lain, kondisi tersebut terjadi karena usaha perlindungan HKI di negara ini belum maksimal. Dalam kaitan tersebut, sesungguhnya kegiatan dokumentasi motif batik sudah banyak dilakukan oleh masyarakat, bahkan Departemen Perindustrian telah mendokumentasi sebanyak 2.788 motif batik dan tenun tradisional dalam bentuk CD (Compact Disc). Selain itu, katanya, juga telah memfasilitasi pendaftaran hak cipta motif batik dan tenun tradisional dari berbagai daerah melalui program Prona (Program Nasional) sebanyak 1000 motif. Batik dalam perkembangannya yang dulu hanya digunakan para raja dan untuk upacara adat, tetapi sekarang telah mempunyai nilai tinggi dalam ekonomi ini perlu terus dikembangkan dan dipelihara dengan baik. Ia menyebutkan, untuk saat ini jumlah industri batik mencapai 48. 287 unit usaha dengan menyerap tenaga kerja 792.285 orang, dengan nilai produksi Rp2,9 triliun dan nilai ekspornya 402,5 juta dolar AS. Unit usaha batik tersebut tersebar di 17 provinsi di Indonesia, seperti di Jambi, Bengkulu, Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Sumatra Barat, Lampung, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan dan Papua. (*/rit) |