Menteri Pertanian dan Kehutanan Sudan, Mohammad Al Amin Kabashi Issa, ketika mengunjungi Tambak Pandu Karawang di Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Sabtu (28/7), mengatakan, Indonesia memiliki pengalaman yang panjang dalam pengembangan sektor perikanan.
"Untuk itu kami ingin melakukan kerjasama dengan Indonesia terutama dalam budidaya tambak udang," katanya.
Menteri Pertanian dan Kehutanan Sudan, berada di Indonesia sejak 26-29 Juli 2007 sebagai balasan kunjungan Menteri Pertanian Anton Apriyantono ke negara yang terletak di Kawasan Afrika Timur tersebut pada Mei 2007 lalu.
Selain di sektor perikanan, menurut Amin Kabashi, pemerintahnya juga tertarik untuk bekerjasama dengan RI dalam mengembangkan sektor pertanian dan perkebunan.
Ketika ditanyakan kemungkinan pemerintah Sudan mengajak swasta untuk berinvestasi di Indonesia pada sektor perikanan, dia mengatakan, secara pribadi dirinya tertarik untuk melakukan investasi di Indonesia.
Sementara itu Kepala Pusat Analisis Kerjasama Internasional dan Antar Lembaga, Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP), Sunggul Sinaga mengatakan, pemerintah RI siap mengirimkan tenaga ahli di bidang perikanan ke Sudan.
Pengiriman tenaga ahli Indonesia tersebut, tambahnya, untuk memberikan pelatihan dalam bidang perikanan budidaya, pengolahan ikan, pengembangan sumberdaya manusia serta pemasaran hasil perikanan.
Menurut dia, pada Maret 2007 lalu Menteri Kelautan dan Perikanan Indonesia dengan Menteri Sumberdaya Hewan dan Perikanan Sudan telah melakukan penandatanganan naskah kerjasama di sektor perikanan antara kedua negara.
"Sekarang ini ditingkat departemen akan ada 'working group' untuk melaksanakan kerjasama tersebut," katanya.
Selain dengan Sudan, menutur Sunggul, negara di kawasan Afrika lainnya yang telah melakukan kerjasama dengan Indonesia di sektor perikanan yakni Mauritius.
Tujuh Ton
Sementara itu, Kepala Tambak Pandu Karawang, I Made Suitha mengatakan, kawasan pertambakan seluas 450 hektar (ha) yang dikelola Ditjen Perikanan Budidaya, Departemen Kelautan dan Perikanan itu ditargetkan mampu memproduksi udang sebanyak 7 ton/ha pada tambak intensif sedangkan untuk semi intensif sekitar 3 ton/ha.
Menurut dia, dari areal seluas 450 ha tersebut yang dipergunakan untuk tambak mencapai 339 ha, yang mana 157 ha dikelola DKP selaku inti sementara sedangkan 151 ha dibudidayakan oleh plasma yakni petambak rakyat yang berjumlah 151 kepala keluarga (KK).
Made mengatakan, kawasan pertambakan yang didirikan 23 tahun lalu melalui Keputusan Presiden (Kepres) no 18 tahun 1984 itu saat itu saat ini mengembangkan 15 spesies ikan diantaranya udang vaname, udang windu, sidat, patin maupun ikan air payau lainnya. (*/bun)