Pada pukul 10:49 am (0249 GMT), kontrak utama New York untuk minyak mentah light sweet pengiriman September, turun 35 sen menjadi US$76,67 per barel di banding harga pada perdagangan Jumat malam yang tercatat US$77,02.
Minyak mentah Brent North sea juga untuk pengiriman September turun 41 sen menjadi US$75,85.
Sementara harga New York mengalami kenaikan US$ 2,07 pada Jumat setelah lebih kuat dari pada perkiraan data pertumbuhan ekonomi yang memperbaharuhi kekhawatiran seputar pasokan dalam antisipasi permintaan dari ekonomi terbesar dunia tersebut.
Di tengah-tengah spekulasi pasar bahwa OPEC dapat menaikkan produksi untuk membendung kenaikan harga, Iran hari Minggu (29/7) menyatakan penaolakannya terhadap setiap langkah OPEC menaikkan produksi.
Menteri Perminyakan Hazem Vaziri Hamaneh mengatakan bahwa harga minyak yang tinggi saat ini, di mana disebabkan kekhawatiran politik dan kekurangan gasolin di Amerika Serikat selama musim panas, di mana banyak orang Amerika melakukan perjalanan untuk liburan.
"Saat ini fluktuasi di pasar-pasar minyak akibat dari alasan politik dan geopolitik," kata Hamaneh.
"Dalam situasi saat ini, kenaikan dalam produksi minyak tidak akan berpengaruh terhadap harga minyak."
"Dimana bukan alasan bagi OPEC menaikkan produksi," katanya, seraya menyebutkan bahwa produksi dan cadangan minyak mentah global sebagai `tinggi`.
Iran merupakan produsen terbesar ke dua dalam OPEC setelah Arab Saudi. Komentar Hamaneh itu muncul sepekan setelah Menteri energi Uni Emirat Arab (UEA) dan presiden OPEC saat ini, Mohammed Al-Hamli menyatakan kekhawatirannya seputar harga, membangun ekspektasi kemungkinan OPEC menaikkan produksi.
OPEC dijadwalkan akan mengadakan pertemuan reguler pada 11 September di markas besarnya di Wina. (*/rit)