Penguasa militer Musharraf dan Benazir bertemu di emirat Teluk itu, Jumat untuk berunding mengenai kemungkinan perjanjian pembagian kekuasaan tapi tidak mencapai satu kesepakatan mengenai dua masalah penting, kata Menteri Urusan Parlemen Sher Afghan Niazi kepada AFP.
Hal-hal yang mengganjal adalah masalah peran rangkap Musharraf sebagai presiden dan panglima militer dan satu larangan yang mencegah Benazir memegang masa jabatan ketiga sebagai perdana menteri, kata Niazi.
Benazir, yang tinggal dalam pengasingan di London dan Dubai sejak tahun 1998 karena tuduhan-tuduhan korupsi terhadapnya, Minggu menegaskan ia tidak akan menandatangani satu perjanjian pembagian kekuasaan dengan Musharraf selama ia tetap sebagai panglima militer.
"Kedua pemimpin itu bertemu di Abu Dhabi, Jumat untuk menjajaki satu kesepakatan politik agar kekuatan-kekuatan moderat dapat bekerjasama untuk mengalahkan kelompok-kelompok garis keras dalam pemilu-pemilu mendatang," kata Niazi.
Ia mengatakan ia yakin bahwa Musharraf "akan bersedia melepaskan seragamnya jika ia mendapat dukungan PPP (Partai Rakyat Pakistan yang dipimpin Benazir) dan menguasai Liga Muslim Pakistan."
Pertemuan rahasia antara Benazir dan Musharraf belum secara resmi dikonfrimasikan oleh jurubicara-jurubicara mereka.
Benazir, yang menjadi perdana menteri dari tahun 1988 sampai 1990 dan tahun 1993 sampai 1996, mengemukakan kepada suratkabar Sky News, Minggu bahwa ia mungkin akan pulang dari pengasingan untuk ikut dalam pemilu Pakistan yang menurut rencana akan diselenggarakan tahun depan.
Akan tapi wanita yang berusia 54 tahun itu kemungkinan akan dipenjarakan karena tuduhan korupsi yang masih dihadapinya apabila pulang ke Pakistan. (*/lpk)